Main Menu

Archives

Meta

Click for Denpasar, Indonesia Forecast

Akankah Terjadi ‘Tsunami’ AIDS di Bali?

By mbm001 | February 23, 2010


Bu Murni (bukan nama sebenarnya), berusia 35 tahun, datang ke kamar praktek bersama suaminya, Pak Murna (juga bukan nama sebenarnya) yang sakit batuk, sesak. Dia juga mengeluhkan berat badannya yang makin hari makin kurus. Segera saya bisa melihat bahwa Pak Murna sangat kurus dan pucat. Otak saya langsung menduga Pak Murna terinfeksi HIV.

Saya mencoba menggali informasi yang lebih mendetail tentang kemungkinan bapak ini terinfeksi HIV. Pak Murna mengatakan bahwa dia bukan pemakai narkoba suntik dan juga bukan orang yang suka mencari ’sundel’ yang bayarannya hanya Rp. 25.000 an. Tapi dia bilang, dia memang kadang-kadang kalau punya uang, ke kafe dan cari cewek yang bayarannya mahal, Rp. 100.000 an dengan teman-temannya sesama tukang bangunan.

 Istrinya yang seorang pekerja domestik alias pembantu rumah tangga marah, kecewa dan sangat sedih. Rupanya bapak ini seringkali bohong, upahnya belum dibayar, uangnya ’ditilep’ pemborong, tapi ternyata dipakai untuk cari ”cewek”. Bapak ini juga mengakui bahwa dia sering kena penyakit ’kelamin’ seperti kencing nanah dan kemaluannya luka. Dia berobat ke dokter sendiri, dan sebenarnya dokter menyarankan dia mengajak istri juga berobat tapi saran dokter ini diabaikannya.

 Ketika saya menyampaikan tentang HIV, Bu Murni menangis, dia merasa sangat takut kalau suaminya dan dia juga benar-benar kena AIDS. Kami membuat janji untuk ke rumah sehat pada tanggal 31 Desember 2009 jam 8.30 pagi untuk VCT dan test HIV. Test HIV menyatakan bahwa Pak Murna telah terinfeksi HIV sedangkan istrinya masih ’non reaktive’. Namun bukan berarti dia pasti tidak terinfeksi HIV. Dua hari yang lalu, tanggal 29 Desember 2009, mereka melakukan hubungan suami istri tanpa kondom. Sebelumnya juga tidak pernah memakai kondom. Tetapi mereka mengatakan bahwa belum tentu sebulan sekali melakukan hubuangan suami istri. Jadi saat ini Bu Murni dalam periode jendela. Untuk memastikan, maka kami menyarankan Bu Murni melakukan test HIV ulang pada tanggal 29 Maret 2010.

 Hari itu Bu Murni juga melakukan pemeriksaan Pap Smear, yang lengkap dengan pengambilan cairan kemaluan untuk test Gonorhoe (kencing nanah) dan bakteri lainnya. Ternyata Ibu Murni menderita Gonorhoe.

 Selama tahun 2009, MBM telah melakukan pemeriksaan pap smear untuk 837 perempuan di seluruh Bali, anggota jemaat GKPB, pasien di Rumah Sehat, maupun kelompok dampingan di desa-desa. 41 perempuan (5%) dari mereka ditemukan menderita Gonorhoe. Penyakit ini adalah salah satu dari infeksi menular seksual. Bila seorang menderita infeksi menular seksual, berarti orang tersebut juga beresiko terinfeksi HIV.

 Sehubungan dengan itu, maka team kesehatan MBM sepakat untuk menganjurkan setiap perempuan yang ditemukan menderita infeksi menular seksual, maka orang tersebut dianjurkan untuk konseling (VCT) dan test HIV. Selama tahun 2009 MBM melakukan layanan VCT dan test HIV terhadap 45 orang, 23 orang perempuan dan 22 orang laki-laki. 12 orang dinyatakan reaktif, artinya mereka telah terinfeksi HIV.

 

Pasca test, teman-teman pendamping mendampingi klien untuk bisa menerima kenyataan bahwa mereka terinfeksi HIV dan bagaimana bisa tetap hidup berkualitas selama mungkin. Mengusahakan pola makan sehat, tidur yang teratur, tidak merokok, mengusahakan berbagai penyakit infeksi, serta secara rutin melakukan test darah untuk memantau jumlah CD4 dalam tubuh mereka.

 Dari pemeriksaan CD4, ditemukan 3 orang sudah dalam keadaan AIDS, yakni jumlah CD4-nya kurang dari 200, dan 8 orang dalam fase asymptomatik, jumlah CD4-nya berkisar antara 294 – 464.  sedangkan ada 1 orang laki-laki berusia 26 tahun dari Denpasar lepas dari pantauan kami. Dia mengganti nomor telepon dan pindah tempat tinggal.

 MBM memulai pelayanan untuk mencegah dan menanggulangi HIV sejak awal tahun 2008. Saat itu MBM tidak memiliki satu orang pun dampingan ODHIV. Di akhir tahun 2009 MBM mencatat ada 62 teman-teman ODHIV yang menjadi dampingan MBM. 95% terinfeksi HIV melalui hubungan seksual dan 50% dari dampingan adalah ibu rumah tangga dan anak-anak yang dilahirkan dari ibu yang terinfeksi HIV.

 Ancaman HIV di Bali saat ini sedemikian besar. Dinas Kesehatan Provinsi Bali melaporkan bahwa Orang dengan HIV dan AIDS di Bali per November 2008 berjumlah 2323 orang yang terdiri dari 1685 laki-laki dan 638 perempuan. 54 orang dari mereka saat ini telah meninggal dunia. 61% tertular HIV melalui hubungan seksual dan 28% adalah IDU. 35 orang (1%) dari mereka adalah bayi yang tertular dari ibunya.  Ditenggarai kebanyakan laki-laki yang tertular HIV mendapat virus ini melalui hubungan seksual yang beresiko. Survey yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Propinsi Bali  mengatakan bahwa pelanggan pekerja seks di Bali tahun 2008 cukup tinggi, yakni sebanyak 85.000 laki-laki selama setahun. Sementara jumlah pekerja seks baik langsung maupun tak langsung yang terdata sebanyak 8.800 perempuan. Para pekerja seks  ini mengatakan bahwa 80% pelanggan tidak bersedia untuk memakai kondom padahal 30% dari pekerja seks di Bali disinyalir telah terinfeksi HIV. Jika saja tiap malam para pekerja seks tersebut berkencan dengan seorang pelanggan dan dalam setahun tiap orang bekerja selama 250 hari, dengan kemungkinan tertular melalui hubungan seks sebesar 1%, maka dalam setahun ada 5280 laki-laki akan tertular HIV.

 Ketika memulai pelayanan ini, Pokja HIV GKPB menetapkan tujuan pelayanan MBM adalah Membangun pemahaman dan kesadaran masyarakat khususnya warga gereja dalam merespon HIV/AIDS secara benar untuk menciptakan masyarakat yang bebas dari ketakutan terhadap HIV/AIDS. Situasi di atas menjadi tantangan besar bagi GKPB khususnya MBM, apa yang harus dilakukan agar HIV tidak menjadi ancaman bagi warga GKPB dan juga masyarakat di Bali?

Topics: Articles | No Comments »

Peresmian Kantor Yayasan MBM Unit Negara

By mbm001 | February 9, 2010

Dalam upayanya mengembangkan sayap pelayanan, dengan tujuan untuk menjangkau lebih banyak masyarakat yang berada di kawasan Bali Barat serta efisiensi dalam pelayanan, Yayasan Maha Bhoga Marga, pada hari Minggu, 17 Januari 2010, menaikkan status Kantor Unit Pembantu Negara menjadi Kantor Unit Negara. Kenaikan status ini secara otomatis akan lebih memudahkan proses pelayan terutama dalam bidang Peminjaman Modal Sarana Usaha (PMSU). Hal ini diamini sendiri oleh Drh.I Gede Suwarna, yang ditunjuk untuk menjabat sebagai Kepala Unit Pelayaan Negara. “Selama ini dokumen penting harus diserahkan ke kantor pelayanan Melaya untuk ditandatangani. Sekarang, dengan memiliki otoritas sendiri, waktu yang dipakai lebih efisien, dan diharapkan hal ini akan semakin mendongkrak kinerja pelayanan” demikian ujar dokter hewan yang sudah mengabdi di Yayasan MBM selama lebih dari 10 tahun. Peresmian Kantor Unit ini dilaksanakan bersamaan dengan Peringatan Hari Ulang Tahun Yayasan Maha Bhoga Marga yang ke-82 serta perayaan Natal Yayasan MBM 2009.

Moment peresmian kali ini memang sengaja disatukan dengan perayaan Natal dan perayaan HUT Yayasan MBM. Selain karena jaraknya yang berdekatan, juga dikarenakan banyaknya kegiatan Yayasan yang sangat menyita waktu. Hal tersebut dibenarkan oleh Pdt. Nengah Suama, Direktur Yayasan MBM yang mengatakan bahwa kegiatan-kegiatan Yayasan di akhir tahun sangat menyita waktu dan tenaga. “Memang benar bahwa perayaan Natal 2009 disatukan dengan peresmian Kantor cabang dan Perayaan HUT  Yayasan untuk menghemat waktu. Padatnya kegiatan kita pada akhir tahun menjadi alasan penyatuan perayaan kali ini” imbuh Pendeta yang sesekali melayani di Jemaat Gabriel, Pegending.

 Hadir dalam peresmian kali ini adalah Drs. I Wayan Sudira Husada, Bishop Gereja Kristen Protestan di Bali (GKPB), yang juga bertindak sebagai Pembina Yayasan MBM. Dalam wejangannya, beliau menegaskan bahwa pelayanan kita ini adalah wujud dari kasih Allah kepada manusia. “Melalui Yayasan ini, kiranya kasih Allah semakin nyata bagi kalangan masyarakat yang membutuhkan” tegas Bishop yang sebelumnya pernah menjabat sebagai pendeta Jemaat Abianbase. Bersama dengan Pdt.Putu Yosia Yogiarta (Pelayan GKPB Jemaat Negara) yang memimpin ibadah peresmian ini, Bishop GKPB secara resmi membuka Kantor Yayasan MBM Unit Negara. “dalam usianya yang ke 28, kiranya Yayasan MBM terus memperlihatkan kedewasaan dalam pelayanannya, sehingga bisa mencapai visi dan misi Yayasan, yaitu menjadi jalan mulia menuju kesejahteraan”, imbuhnya.

Ibadah pengucapan syukur kali ini, selain dihadiri oleh seluruh karyawan Yayasan MBM Unit Kapal maupun Melaya, juga turut hadir adalah para Majelis jemaat Immanuel Ambyarsari, PNIEL Blimbingsari dan Negara, serta karywan PT.BPR Kapal. Karyawan Yayasan MBM dan PT.BPR MBM juga turut memeriahkan perayaan sederhana ini dengan menyumbangkan pujian sebagai wujud ungkapan syukur.

Kiranya Tuhan memberkati pelayanan kita demi terwujudnya kesejahteraan masyarakat.

Topics: News | No Comments »

APAKAH AKU KENA HIV?

By mbm001 | January 7, 2010

Pagi itu, sekitar jam 9 pagi, seorang laki-laki berumur 30 an, panggil saja Agus, datang ke Rumah Sehat MBM untuk berobat. Agus mengeluh menderita sariawan, yang sudah dideritanya selama seminggu terakhir. Matanya merah karena kurang tidur, gelisah dan tampak cemas. Dengan suara rendah dia bertanya pada dr. Sonya yang hari itu bertugas, apakah penyakit sariawan yang dialaminya merupakan tanda-tanda seorang yang menderita AIDS?

 Dr. Sonya terdiam mendengar pertanyaan Agus. Ternyata sejak seminggu terakhir Agus merasa ketakutan telah terinfeksi HIV. Informasi HIV diperolehnya dari salah seorang relawan yang memintanya mengisi kuisioner dan brosur pada peringatan Hari AIDS Sedunia 2009. Sebelumnya informasi HIV sering didengarnya dari TV, tapi ketika informasi tersebut disampaikan langsung oleh seorang relawan, dia baru paham bahwa perilakunya selama ini sangat beresiko tertular HIV.

 Agus menuturkan bahwa hampir setiap bulan setelah menerima gaji, dia mengunjungi kawasan Bung Tomo untuk menghibur diri. Tidak terhitung sudah berapa pekerja seks yang telah dia kencani selama 3 tahun belakangan ini. Tidak pernah sekalipun dia memakai kondom saat berkencan dengan mereka.

 Per September  Tahun 2008 Dinas Kesehatan Propinsi Bali melaporkan Orang dengan HIV dan AIDS di Bali berjumlah 2323 orang yang terdiri dari 1685 laki-laki dan 638 perempuan. 54 orang dari mereka saat ini telah meninggal dunia. 61% tertular HIV melalui hubungan seksual dan 28% adalah IDU. 35 orang (1%) dari mereka adalah bayi yang tertular dari ibunya. 

Ditenggarai kebanyakan laki-laki yang tertular HIV mendapat virus ini melalui hubungan seksual yang beresiko. Survey yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Propinsi Bali  mengatakan bahwa pelanggan pekerja seks di Bali tahun 2008 cukup tinggi, yakni sebanyak 85.000 laki-laki selama setahun. Sementara jumlah pekerja seks baik langsung maupun tak langsung yang terdata sebanyak 8.800 perempuan. Para pekerja seks  ini mengatakan bahwa 80% pelanggan tidak bersedia untuk memakai kondom padahal 30% dari pekerja seks di Bali disinyalir telah terinfeksi HIV.

 Jika saja tiap malam para pekerja seks tersebut berkencan dengan seorang pelanggan dan dalam setahun tiap orang bekerja selama 250 hari, dengan kemungkinan tertular melalui hubungan seks sebesar 1%, maka dalam setahun ada 5280 laki-laki akan tertular HIV.

 Agus mengatakan ada banyak temannya yang mempunyai perilaku yang sama dengan dirinya, suka berkencan dengan pekerja seks tanpa kondom. Mereka belum memahami tentang besarnya resiko tertular HIV yang disebabkan oleh perilaku seksual mereka yang tidak aman tersebut.

Informasi tentang HIV secara langsung baru pertama kali diterimanya saat HAS 2009 dan peristiwa tersebut menyebabkannya ingin mengetahui apakah dirinya telah terinfeksi HIV. Agus belum berani menyampaikan informasi ini kepada teman-temannya karena takut dicap sebagai pengidap HIV atau sok suci. Dia berharap ada relawan-relawan lain yang akan menyampaikan informasi ini untuk teman-temannya.

Setiap orang yang tidak tahu tentang HIV adalah orang yang paling beresiko terhadap HIV. MARI KITA TEPATI JANJI - STOP HIV. Sampaikanlah informasi yang benar tentang HIV kepada setiap orang agar mereka tahu cara mencegah dan segera VCT & test HIV bila berperilaku beresiko terhadap penularan HIV.

Oleh: dr.Luh Debora Murthy

Topics: Articles | No Comments »

Christian Lay Leadership Training (CLLT)

By mbm001 | December 4, 2009

Kerjasama: ACISCA, OIKOSNET ASIA dan Yayasan Maha Bhoga Marga

ACISCA (Association of Christian Institution of Social Concern in Asia) bersama dengan OIKOSNET ASIA dan Yayasan Maha Bhoga Marga (YMBM) menyelenggarakan Christian Lay Leadership Training (CLLT) yang diberi tajuk “Empowering Youth to Empower Asia in the 21st Century: Challenges and Perspectives”. Pelatihan ini berlangsung dari tanggal 1 – 9 Desember 2009 bertempat di Hall Yayasan MBM, Hotel Dhyana Pura dan Pusat Pendidikan dan Latihan Pariwisata (PPLP) Dhyana Pura. Disamping partisipan lokal yang ambil bagian seperti dari Yayasan MBM,PPLP Dhyana Pura dan Hotel Dyana Pura, sejumlah peserta dari seluruh anggota ACISCA hadir dalam pelatihan CLLT kali ini diantaranya dari Thailand, Bangladesh, Pakistan, dan India. Hadir sebagai pembicara dalam pelatihan selama 9 hari ini adalah Prof.DR.John Zechariah (Chairman ACISCA/OIKOSNET ASIA), DR.J.Gandhi (India) dan Manisha Solomon (India), ditambah dengan 13 orang pembicara lokal, diantaranya DR.Ketut Waspada (GKPB), Pdt.Made Priana (Sekum GKPB), Pdt. Nengah Suama. Tujuan dari pelatihan ini adalah untuk memberikan bekal bagi kaum muda Asia untuk memiliki pengetahuan tambahan berkaitan dengan kepemimpinan yang bernafaskan kekristenan. Berbagai macam topik menjadi bahan pembicaraan diantaranya: Leadership Styles and Characteristics, New Challenges in the Pluralistic Context of Asia, Interfaith Harmony and Peaceful Changes: A New Roadmap, Conflict Resolution and Sustainable Organization, dan masih banyak topik lainnya. Pelatihan ini sendiri diselingi dengan city tour mengitari wilayah Denpasar dan sekitarnya, serta mengunjungi kelompok-kelompok binaan Yayasan MBM diwilayah Bali Barat dan Timur. Pelatihan ini sedianya akan berakhir pada hari Rabu, 9 Desember 2009.

Topics: Activities | No Comments »

PASTORAL KONSELING ‘TRAINING ON TRAINERS’ JARINGAN KERJA-LEMBAGA PELAYANAN KRISTEN (JK-LPK)

By mbm001 | November 15, 2009


Kerjasama: JK-LPK, Mission 21 dan Yayasan Maha Bhoga Marga (MBM)

Sebagai sebuah organisasi yang mewadahi lembaga-lembaga pelayanan Kristen, dan dalam upayanya menekan dan menghambat perkembangan virus HIV & AIDS yang terus merebak di tengah masyarakat, JL-LPK merasa perlu untuk terus menggalakkan dan mengkampanyekan program-program untuk menekan perkembangan virus ini. Dan oleh kaena itu, pada tanggal 30 Oktober – 2 Nopember 2009, bertempat di Hall Yayasan MBM, Kapal, JK-LPK bekerjasama dengan Mission 21 menyelenggarakan Pelatihan dengan Tema “TRAINING ON TRAINERS - PASTORAL KONSELING”. Pelatihan yang diselengarakan selama 4 hari ini dihadiri oleh perwakilan dari seluruh anggota JK-LPK dari semua regional, baik itu dari regional Papua, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Jawa dan bahkan Sumatera. Sebanyak 35 peserta sebagai perwakilan dari setiap lembaga ikut serta dalam workshop ini.

Pelatihan hari pertama dimulai dengan sambutan dan doa bersama yang dipimpin oleh Direktur Yayasan MBM, Pdt. Nengah Suama. Dalam sambutannya, sambil memperlihatkan video tentang penyebaran virus HIV & AIDS, dan juga tentang berbagai macam penyakit yang menyebabkan cacat fisik,  beliau menekankan bahwa apa yang dialami oleh manusia bukanlah karena dosa dan kesalahan manusia, baik itu oleh orangtuanya ataupun oleh dirinya sendiri. Dalam pembacaan dari Perjanjian Baru, jelas sekali dinyatakan bahwa cacat fisik manusia adalah agar kemuliaan Allah dinyatakan di tengah-tengah manusia. “Apa yang dialami oleh mereka di dalam video tadi bukanlah karena dosa mereka, tetapi semuanya merupakan isi dari rencana Allah” demikian imbuh Pendeta yang saat ini melayani di GKPB Jemaat Pegending. Workshop kemudian dilanjutkan dengan perkenalan antar peserta yang dipandu oleh Ibu Tanty sebagai perwakilan dari JK-LPK Pusat, Jakarta. Sesi malam ini ditutup dengan ibadah malam yang dipimpin oleh salah seorang peserta pelatihan.

Pada hari ke-dua, setelah dibuka dengan renungan singkat dan review mengenai apa yang telah diperoleh pada hari sebelumnya, workshop dilanjutkan dengan sesi tentang informasi dasar mengenai HIV & AIDS yang disampaikan oleh dr.Luh Deborah Murthy, yang juga adalah Kepala Divisi Kesehatan dan Advocacy. Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan apa itu virus HIV, bagaimana cara-cara penularannya serta bagaimana cara penanggulanganny yang salah satunya melalui penggunaan kondom Beliau menambahkan bahwa dewasa ini kasus-kasus baru HIV terus bermunculan, dan adalah kewajiban kita untuk bahu membahu dan bersama-sama. Dalam sesi ini juga dilanjutkan dengan memberikan kesempatan kepada peserta untuk mengajukan pertanyaan yang berkenaan dengan materi HIV & AIDS. Salah seorang peserta Vic.Vincent menanyakan: “apakah dengan menggunakan kondom melanggar ayat Kitab Suci yang mengatakan untuk beranak cucu dan memenuhi bumi?” Pertanyaan ini mendapat respon dari peserta lain, salah satunyad dari Pak Yoseph dari Papua. Dalam tanggapannya dia mengatakan bahwa perintah untuk memiliki anak harus disesuaikan dengan kondisi terkini, yaitu dari segi ekonomi dan sisi kesehatan. “Jika tujuan penggunaan kondom adalah untuk menghindari penyebaran HIV, maka saya merasa itu tidak bertentangan dengan Kitab Suci” ujar beliau bersemangat. Persoalan moral memang menjadi isu serius dan menimbulkan kontroversi dalam hal ini, terutama jika dikaitkan dengan gereja. Ada pendapat yang mengatakan bahwa pelegalan penggunaan kondom sama artinya dengan pelegalan prostitusi, dan ini melanggar hukum tentang perzinahan seperti yang terdapat dalam Kitab Suci. Banyak juga tanggapan yang muncul yang kontra terhadap pemikiran itu. Bahwa menggunakan ondom sebagai salah satu cara untuk menghambat penularan HIV memang benar, tetapi melakukan perzinahan dengan alas an pemanfaatan kondom tentu saja adalah sesuatu yang melanggar hukum Allah, dan ini merupakan dosa. Pada pelatihan hari ke-dua ini kontroversi mengenai penggunaan kondom yang ditinjau dari sisi moral menjadi bahan diskusi yang serius bagi para peserta.

Di sela-sela diskusi dan perdebatan mengenai kondom, pada sesi ini juga diperkenalkan dua macam kondom , yaitu untuk pria dan wanita. Petunjuk cara penggunaan yang dipraktekkan oleh Anna, salah seorang peserta dari Papua mengundang gelak tawa dari para peserta lainnya yang sebelumnya bahkan belum pernah melihat benda yang terbuat dari plastik tipis ini. Selain ada kondom untuk laki-laki, ada juga kondom untuk perempuan. Dalam posisi ketidaksetaraan, wanita juga memiliki hak untuk menggunakan kondom, untuk melindungi dirinya dari kemungkinan tertular HIV. Beliau menunjukkan jenis kondom untuk perempuan. Jenis kondom ini sedikit berbeda dari kondom yang digunakan oleh laki-laki, karena memiliki bantalan. Cara pemakaiannya, bantalan kondom ditekuk, dan dimasukkan perlahan-lahan ke dalam lubanga vagina, dan bantalan tersebut akan mengembang setelah berada di dalam lubang vagina. Kondom perempuan kemudian diedarkan kepada seluruh peserta untuk melihat bagaimana bentuk sebenarnya.

Setelah penjelasan mengenai kondom, dilanjutkan dengan ice breaking. Peserta diajak berdiri untuk memainkan permainan, dimana setiap peserta diajak harus mencari teman yang memiliki warna baju yang sama, atau berasal dari daerah yang sama. Ketika yang disebutkan adalah warna merah, maka setiap peserta yang memiliki baju berwarna merah harus bertukar tempat dengan peserta lainnya yang juga memakai baju merah. Yang tidak berhasil mendapatkan tempat, maka akan dikenai hukuman untuk berdiri di depan. Hukuman diberikan oleh ketua kelas dengan mengharuskan peserta berlari ditempat ketika dia meneriakkan kata “Ada Singa”. Peserta harus berlari perlahan ketika ketua kelas mengatakan “singanya masih jauh”, dan kembali berlari cepat ketika dia berteriak “singanya sudah dekat”.

Sesi selanjutnya diisi dengan penjelasan mengenai IMS (Infeksi Menular Seksual). Pada sesi ini, peserta dibagi ke dalam 4 kelompok, dimana di dalam kelompok para peserta berdiskusi mengenai IMS. Peserta diwajibkan untuk mendiskusikan informasi apa saja yang mereka ketahui mengenai IMS, untuk kemudian dipresentasikan. Informasi yang diketahui oleh satu kelompok mungkin tidak diketahui oleh kelompok lainnya, dan  karena itu berbagi informasi mengenai IMS adalah sesuatu yang sangat berguna bagi kelompok lainnya. Pada sesi penutupan, setelah acara makan malam bersama, workshop hari kedua ditutup dengan ibadah malam yang dipimpin oleh salah seorang peserta.

Pada hari ketiga, pelatihan kembali dilanjutkan dan materi kali ini adalah tentang PASTORAL KONSELING  yang disampaikan oleh Pdt. Emmy Sahertian dari GPIB Jakarta. Apa itu pastoral konseling? Percakapan yang efektif antara konselor dan klien, atau kalau saya melihat hasil diskusi ada berbagai jawaban hubungan antara Tuhan dan manusia, kejatuhan manusia dalam dosa, adam dan hawa, surga dan neraka. Gereja-gereja masih dikatakan mendiskriminasi paling tinggi, padahal gereja harusnya merangkul mereka, kita melihat teladan Yesus yang memang sungguh-sungguh melayani. Mari kita berlaku seperti Yesus, mencoba meniru teladan Yesus dalam memberi pelayanan. Pada sesi ini juga diadakan praktek percakapan antara Konselor sebagai pendamping dan Klien sebagai dampingan. Peserta diberikan kesempatan untuk dilatih mengenai teori-teori pendekatan yang bias digunakan dalam proses konseling, sehingga informasi yang ingin digali oleh konselor bisa keluar dengan tampa adanya paksaan. Simpati dan Empati adalah dua hal yang mutlak dimiliki oleh konselor dalam upayanya mendampingi dan memberikan dukungan kepada kliennya. Penekanan juga diberikan pada proses komunikasi dimana dalam proses ini terkdang timbul konflik kecil antara konselor dan dampingan. Oleh karena itu, pengenalan akan teori dan cara-cara yang benar dalam melakukan konseling merupakan hal yang sangat bermanfaat bagi peserta setelah mereka nantinya kembali ke daerah pelayanannya masing-masing.

Setelah permainan, sesi dilanjutkan dengan ceramah oleh Pdt. Emmy Sahertian. Menurutnya, permainan ini mirip dengan proses konseling, dimana terkadang informasi yang kurang bisa menghasilkan keputusan yang salah. Beliau kemudian memainkan sebuah video animasi mengenai virus HIV, dimulai dari proses masuknya virus, proses penerimaannya di dalam tubuh manusia, bagaimana virus ini bisa menjadi senyawa dengan sel darah putih manusia, lalu kemudian, setelah masuk ke dalam sel darah putih, virus tersebut berkembang dan mulai membelah dan berkembang, dan perlahan-lahan menguasai seluruh sel darah putih manusia. Sel-sel virus ini terus membelah dan mambuat replika virus yang baru, dan merubah DNA manusia menjadi DNA virus. Ada terapi untuk menghambat perkembangan virus ini, dengan tujuan untuk menghentikan perkembangan virus agar virus ini tidak bisa lagi membelah dan berkembang.

Diharapkan dalam proses konseling, tidak terjadi hal-hal yang menyebabkan virus ini menular dan berkembang di dalam tubuh manusia yang lain. Adanya pastoral konseling bisa menghambat perkembangan virus, karena orang yang mendapat pendampingan bisa memiliki semangat untuk terus berperang melawan virus melalui doa dan gaya hidup sehat. Pendampingan remaja dimulai ketika semua organ tubuhnya mulai berfungsi. Kerangka berpikir yang benar harus diberikan kepada remaja sejak dini. Terlambatnya informasi kepada remaja bisa menimbulkan perilaku beresiko. Melalui video yang sudah ditayangkan sebelumnya, betapa canggih dan berbahayanya virus HIV yang menyerang tubuh manusia. Oleh karena itu, pemberian informasi sedini mungkin melalui pelayanan pastoral konseling bisa menghambat perkembangan virus di dalam tubuh ODHA.

Pastoral konseling itu bukan sekedar moral, tapi juga mengenai kehigienisan dalam bidang kesehatan. Sebagai contoh, dalam pemeriksaan darah malaria di beberapa daerah di wilayah timur Indonesia seringkali menggunakan jarum suntik yang tidak steril. Sedikit saja rongga yang tersisa di dalam jarum suntik, maka kemungkinan untuk membawa virus sangat besar. Penularan virus HIV tidak hanya berkaitan dengan moral (seks bebas) tetapi juga sebenarnya bisa melalui berbagai cara seperti jarum suntik, tranfusi darah, ataupun melalui luka dan nanah. Prinsip penularan HIV tidak bisa berada di luar tubuh manusia. Pengenalan informasi mengenai HIV yang benar sangat penting dalam proses konseling, karena dengan tidak lengkap dan tidak ilmiahnya informasi HIV yang diberikan bisa membuat pendampingan menjadi tidak efektif. Kita harus paham benar cara-cara penularan, dan kita tidak boleh sok tahu. Dalam proses konseling, terkadang bukan HIV yang menular, melainkan virus lain selain HIV yang menjangkit. Begitu juga sebaliknya, konselor bisa menularkan virus lain seperti TBC dan Hepatitis kepada dampingan (ODHA), dan ini bisa membuat ODHA mudah terkena dan memperburuk system kekebalan tubuhnya. Memandikan mayat yang teridap HIV termasuk dalam pastoral konseling, karena berhubungan dengan memperlakukan manusia dengan baik.

Pada bagian akhir sesi malam, terdapat perdebatan serius mengenai kontroversi penggunaan kondom seperti halnya pada hari pertama. Ada beberapa peserta yang tidak setuju dengan penggunaan kondom, karena ini sama halnya dengan melegalkan perzinahan. Tetapi peserta lainnya mengatakan bahwa penggunaan kondom tidak bisa dihubungkan dengan moral. Menurut Pdt.Emmy, kondom adalah alat edukasi. Kondom adalah alternative terakhir untuk mencegah penularan HIV. Persoalan moral tidak bisa dihubungkan dengan permasalahan kondom. Meskipun demikian, persoalan mengenai hal ini akan terus menjadi kontroversi.

Pelatihan hari ke-4 dibuka oleh Ibu Tanty (JK-LPK) dengan memainkan sebuah permainan. Peserta dibagi ke dalam 6 kelompok. Setiap kelompok diharuskan berdiri dalam barisan, berlomba dari satu ujung ruangan ke ujung ruangan lainnya. Aturan perlombaannya adalah setiap peserta dalam kelompok memegang secarik kertas sebesar telapak kaki, dan diletakkan di atas lantai untuk dijadikan pijakan. Peserta yang di depan berjalan dahulu, lalu kemudian diikuti oleh peserta lainnya yang berdiri dibelakangnya. Setelah peserta di depan meletakkan kertas pijakan, peserta yang di belakang harus melakukan hal yang sama. Jika kertas yang diletakkan jauh dari  jangkauan peserta di belakangnya, maka pastinya peserta yang dibelakangnya akan ketinggalan. Kelompok yang paling kompaklah yang akhirnya berhasil memenangkan perlombaan. Dalam hubungannya dengan konseling, permainan ini membawa pesan bahwa antara konselor dan dampingan harus saling kompak.

Sesi selanjutnya adalah presentasi dari para peserta mengenai VERBATIM. Peserta dibagi ke dalam kelompok-kelompok yang masing-masing terdiri dari 3 orang peserta. Masing-masing memiliki fungsi sendiri-sendiri; ada yang berfungsi sebagai Pewawancara, satu orang lainnya sebagai orang yang diwawancara, dan satu orang lainnya bertugas merekam semua pembicaraan. Rekaman pembicaraan ini berdasarkan apa yang dialami sendiri oleh para peserta ketika melakukan studi lapangan di Pantai Kuta. Tidak semua kelompok bisa mempresentasikan apa yang dialaminya karena keterbatasan waktu.

Ibu Emmy Sahertian berpendapat bahwa Verbatim yang dilakukan sudah bagus dari sisi penggalian informasi, hanya saja terkadang konselor lupa untuk masuk ke dalam dunia dampingannya. Empati yang seharusnya muncul dari dalam diri konselor, justru muncul dari pihak yang lain. Kesedihan yang dirasakan oleh dampingan justru menimbulkan perasaan sedih yang berlebihan, dan bisa menjadikan posisi konselor sebagai dampingan. Dan jika yang ini yang terjadi, maka proses konseling akan terbalik, dan tidak efektif.

Dalam konseling, ada tahapan, maksud dan tujuan serta keterampilan. Dalam tahap awal, konseling harus dimulai dari kebersamaan, harus hadir dan berasa bersama. Tujuan yang ingin dicapai adalah untuk membangun kebersamaan. Keterampilan yang dibutuhkan dalam tahapan awal adalah mau mendengarkan secara aktif. Setelah melewati proses pada tahapan awal, selanjutnya adalah menggali dan menanggapi sebagai refleksi perasaan. Tujuannya adalah untuk memahami dampak dari pergumulan yang sulit yang dialami oleh dampingan. Keterampilan yang dibutuhkan adalah kemampuan mengungkapkan kembali rekaman pembicaraan dengan menggunakan kata-kata sendiri untuk menggambarkan apa yang sebenarnya dialami oleh dampingan.

Dalam rangkaian penjelasan, ditampilkan contoh tentang perasaan seorang IBU yang berkelahi dengan anaknya, dimarahi suaminya, diomeli bosnya. Setiap peserta diberikan kesempatan untuk bertindak sebagai konselor, dan mengutarakan pendapatnya. Banyak pendapat yang diungkapkan tidak merasakan kesedihan yang dialami oleh dampingan. Yang terutama dalam proses konseling adalah menguraikan perasaan yang dialami dampingan, dan bukan menghakimi.

Worksop 4 hari ini akhirnya ditutup dengan penyusunan Rencana Tindak Lanjut oleh masing-masing peserta dan komitmen mereka dalam upaya penanggulangan HIV & AIDS melalui Patoral Konseling. Kiranya TUHAN berkenan dengan semua upaya yang kita lakukan.

Topics: Activities | No Comments »

PERTEMUAN TENGAH TAHUN 2009 - KELOMPOK SWADAYA MASYARAKAT (KSM) dan KELOMPOK PEREMPUAN MANDIRI (KPM)

By admin | July 1, 2009


MBM Hall, 30 Juni – 1 Juli 2009

Dalam usaha meningkatkan kapasitas dan produktivitas kelompok binaan, Yayasan Maha Bhoga Marga (YMBM) setiap tahunnya mengadakan Pertemuan rutin bagi kelompok-kelompok dampingan, baik itu Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) maupun Kelompok Perempuan Mandiri (KPM).

 

Kelompok-kelompok masyarakat yang dibentuk di bawah binaan Divisi Ekonomi dan Pembangunan Masyarakat ini diundang untuk mengirimkan perwakilannya agar bisa berbagi pengalaman dengan kelompok lainnya baik itu dalam sisi pengembangan usaha maupun dalam dalam pemasaran mengenai usaha yang sudah dilakukan. “Tujuan dari pertemuan hari ini adalah untuk memberikan kesempatan bagi setiap perwakilan kelompok untuk berbagi pengalaman mengenai usaha antara satu kelompok dengan kelompok lainnya, dan diharapkan dengan keberhasilan satu kelompok bisa memacu kelompok lainnya untuk lebih giat lagi dalam berusaha” demikian tutur Ketut Sumiasa, salah satu koordinator dari Kelompok Swadaya Masyarakat. Saat ini, kembali beliau menambahkan, Yayasan Maha Bhoga Marga memiliki 124 Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) dan masing-masing kelompok beranggotakan 10-15 orang. “Yang hadir saat ini hanyalah pengurus dan perwakilan dari masing-masing kelompok. Sekembalinya di kelompok, diharapkan setiap pengurus bisa menyampaikan informasi yang mereka dapatkan kepada anggota kelompok lainnya” papar pria yang sudah mengabdi di Yayasan sejak 1990. Salah satu koordinator kelompok lainnya, yaitu Sri Wahyuliyanti menambahkan, dalam pertemuan enam (6) bulanan ini, diadakan juga evaluasi dan perencanaan program untuk 6 bulan berikutnya. “Tujuan lain dari pertemuan rutin ini adalah untuk mengevaluasi apa yang telah dilakukan oleh kelompok dampingan selama enam (6) bulan yang telah berjalan, dan membuat rencana kerja untuk enam (6) bulan berikutnya”, demikian menurut ibu 38 tahun ini. Ketika ditanya mengenai usaha yang dilakukan oleh setiap kelompok, Sri menambahkan bahwa rata-rata usaha yang digeluti adalah usaha perdagangan dan peternakan babi. Berbeda dengan Kelompok Peternak Sapi (KPS) yang juga merupakan program Yayasan MBM untuk tahun 2009, kelompok peternak babi ini kebanyakan adalah ibu-ibu rumah tangga, sedangkan untuk usaha perdagangan lebih banyak beranggotakan pria. Ibu-ibu rumah tangga yang ingin menggeluti usaha perdagangan, termasuk dalam Kelompok Perempuan Mandiri (KPM), demikian imbuhnya bersemangat.

 

Pertemuan yang dijadwalkan berlangsung selama 2 hari ini ini dibuka dengan refleksi singkat yang dipimpin oleh Direktur Yayasan MBM, Pdt.Nengah Suama. Dalam renungannya beliau mengatakan bahwa Yayasan MBM terpanggil untuk mewujudkan pelayanan  yang member kesetaraan dan kesejahteraan. “Diharapkan dengan kehadiran Yayasan MBM ditengah masyarakat, kesetaraan dan kesejahteraan masyarakat bisa dicapai” tambahnya.

Pada pertemuan kedua yang hadir adalah, kali ini yang hadir adalah Kelompok Perempuan Mandiri (KPM). KPM adalah kelompok perempuan yang beranggotakan ibu-ibu rumah tangga yang ingin mendapat dampingan dari Yayasan MBM, baik itu dukungan berupa penyuluhan kesehatan, pemberdayaan ekonomi maupun penanggulangan isu-isu yang berkaitan dengan kesetaraan gender. Jumlah anggota yang hadir pada pertemuan kedua ini sebanyak 30 orang, dan kebanyakan dari mereka sudah mendapat dampingan dari Yayasan MBM selama lebih dari 5 tahun.

Agenda hari kedua ini lebih banyak menekankan pada evaluasi mengenai apa yang telah dikerjakan oleh kelompok selama enam bulan. Tidak hanya itu, pada kesempatan ini juga diberikan penyuluhan mengenai kesehatan yang disampaikan oleh dr.Luh Debora Murthy, Sekretaris Yayasan Maha Bhoga Marga yang mengabdikan dirinya dalam pelayanan kesehatan masyarakat sejak tahun 1998. Topik yang disampaikan oleh beliau adalah mengenai isu-isu kesehatan terbaru yaitu Flu Babi atau yang juga dikenal dengan Swine Flu. Dalam ceramah kesehatannnya beliau mengatakan bahwa saat ini wabah flu babi sudah menjadi isu global, dan sudah menyerang hampir semua Negara. Dan yang harus membuat kita lebih waspada, karena wabah flu babi saat ini sudah menyerang Bali. Satu-satunya hal yang bisa kita lakukan mencegah terkena penyakit ini adalah meningkatkan gaya hidup sehat dan meninggalkan gaya hidup yang menyebabkan kita rentan terkena penyakit tersebut. “Terkadang kita lupa bahwa perilaku kitalah yang sebenarnya membuat kita rentan terjangkit penyakit. Jika kita membiasakan diri dengan hal yang sederhana, seperti mencuci tangan sebelum makan, istirahat yang cukup dan berolahraga, niscaya kita lebih tahan terhadap virus maupun bakteri yang menyerang tubuh kita” demikian papar dokter dan juga ibu satu anak ini.

Pada sesi selanjutnya, Drs.Gede Mustika juga ambil bagian dalam pertemuan ini. Kali ini, masalah yang diangkat oleh Kepala Divisi Ekonomi dan Pembangunan Masyarakat ini adalah Pemanasan Global (Global Warming). Beliau mengatakan, bahwa saat ini kondisi bumi mengalami peningkatan temperatur dalam 100 tahun belakangan. Hal ini bukannya tanpa alasan, dan jika diteliti secara ilmiah – semuanya itu dikarenakan oleh ulah manusia. “Semakin menebalnya lapisan selimut bumi, yang menyebabkan terhambatnya pantulan panas keluar angkasa, sebagian besar dikarenakan produksi Gas karbondioksida yang berlebihan. Disisi yang lain, hutan yang seharusnya bisa menyerap Gas Karbon ini, terus digunduli,” demikian paparnya bersemangat. Dan unutuk mengurangi dampak dari pemanasan global ini, beliau mengatakan bahwa ini adalah saat yang tepat bagi kita untuk kembali ke alam. Menggunakan pupuk organik dan menghindari penggunaaan pestisida yang berlebihan adalah salah satu solusi menyelamatkan bumi. Selain isu pemanasan global, beliau banyak menjelaskan mengenai cara-cara sederhana pengolahan sampah organik dan pembuatan kompos.

Pada sesi terakhir pertemuan Kelompok Perempuan Mandiri ini, Made Effraim Arifin, yang juga sebagai coordinator dan Pembina kelompok menjelaskan sistem baru pinjaman dan perangkat administrasi yang sudah diperbaharui. “Dengan diberlakukannya perangkat administrasi yang baru ini, sangat diharapkan pencatatan penerimaan dan pengeluaran kelompok bisa sama dengan apa yang tercatat di Yayasan MBM”, demikian ungkapnya.

Pada kesempatan kali ini, beberapa kelompok juga memamerkan hasil kerajinan sebagai hasil dari usaha mereka selama ini, diantaranya hasil rajutan berupa baju dan syal, serta aneka kudapan seperti kripik dan kacang-kacangan. Sesama kelompok saling berbagi pengalaman mengenai kiat bisnis masing-masing, sambil berharap kiat bisnis dari kelompok lain bisa diterapkan pada bisnis mereka.

Topics: Activities, News | No Comments »

PELATIHAN PENGUATAN LEMBAGA BERSAMA JARINGAN KERJA LEMBAGA PELAYANAN KRISTEN (JK-LPK)

By admin | June 23, 2009


Yayasan Maha Bhoga Marga mengikuti Pelatihan Penguatan Lembaga (23 -26 Juni 2009)

Sebagai bagian dari Jaringan Kerja Lembaga Pelayanan Kristen (JK-LPK), Yayasan Maha Bhoga Marga (YMBM) menghadiri “Training of Trainers Capacity Building” yang diselenggarakan oleh JKLPK dengan tema “Memperkuat Lembaga Pelayanan Kristen untuk merebut Anggaran Publik – Melangkah Dari proyek ke Gerakan Rakyat”. Yayasan MBM sendiri akan diwakili oleh Liana Susana Hematang (staff advokasi) dan Hendrik Daud Ngelo (Pembina Kelompok). Training penguatan lembaga ini akan berlangsung selama empat (4) hari dari tanggal 23 – 26 Juni 2009 di Wisma Anggraini Bogor. Pelatihan atas kerjasama JKLPK, Perkumpulan Prakarsa dan CSO Working Group akan mengahadirkan pembicara diantaranya Pdt.Bambang Subandrijo (STT Jakarta), Abdul Waidi (P3M), Yuna Farhan (FITRA) dan Ridaya Laodengkowe.

Tujuan dari pelaksanaan Capacity Building ini adalah:

·         Menyatukan persepsi dan membangun visi bersama tentang anggaran yang berpihak pada masyarakat miskin dan sensitif gender

·         Memahami fungsi, tujuan, sistem dan proses anggaran publik baik secara politis dan teknis: landasan hukum penetapannya; mengetahui aktor/stakeholder terkait dan konflik kepentingan yang bermain dalam setiap lini proses; serta teknik membaca dan menganalisa anggaran

·         Melakukan pemetaan ulang peluang ketelibatan masyarakat/LPK dalam setiap celah prosesnya, mengukur kekuatan advokasi LPK di region dan menyusun langkah-langkah strategis untuk penganggaran yang partisipatif di local.

Adapun agenda dari Pelatihan Penguatan Lembaga ini:

·         Brainstorming: penjelajahan pengalaman advokasi lembaga khususnya berkenaan dengan anggaran publik

·         Kemiskinan dan Anggaran Publik dalam Konteks HAM dan Perspektif teologi: Pemandangan pandangan Alkitab mengenai tanggungjawab manusia dalam membela kaum miskin, lemah dan tertindas

·         Anggaran Publik dan Pro Poor Budget: Filosofi, kebijakan dan fungsi anggaran serta konsep anggaran yang berpihak pada masyarakat.

·         Sistem, Metode dan Prosedur Penyusunan Anggaran: Mengidentifikasi proses, actor yang terlibat dalam setiap proses anggaran dan konflik kepentingan umum

·         Penganggaran Daerah: Menganalisa konsistensi kebijakan dokumen perencanaan dan penganggaran daerah

·         Analisis Anggaran: Belajar untuk mengupas cerminan pro-poor atau tidaknya kebijakan, mengkaji penerimaan atau pemasukan dari makna anggaran yang diperoleh (revenue)

·         Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban Anggaran: Mengidentifikasi penyimpangan dalam pelaksanaan anggaran dan memahami pertanggungjawaban APBD

·         Strategi Advokasi Anggaran: Mencakup prinsip advokasi APBD, merumuskan kelompok sasaran advokasi, strategi tahap penyusunan, pengesahan, pelaksanaan, pertanggungjawaban dan strategi pendukung disetiap anggaran

·         Rencana Tindak lanjut: menentukan focus isu, menyusun langkah yang akan dilakukan, mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman.

Dari semua agenda pelaksanaan training ini diharapkan agar setiap lembaga memiliki suatu metode dan strategi yang pro masyarakat miskin yang sesuai dengan visi dan misi pelayanan JKLPK, dan bias diterapkan di lembaga pelayanan masing-masing.

Topics: Capacity Building, News | No Comments »

LOKAKARYA NASIONAL PENGENTASAN KEMISKINAN

By admin | June 23, 2009


Yayasan Maha Bhoga Marga mengikuti Loka Karya Nasional di Lampung, 22 - 28 Juni 2009

Dalam upaya meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat di daerah pelayaanan masing-masing, GEREJA KRISTEN SUMATERA BAGIAN SELATAN mengundang Yayasan Maha Bhoga Marga untuk turut ambil bagian dalam Lokakarya Nasionalyang diselenggarakan di GKSBS Metro - Lampung, dari tanggal 22 – 28 Juni 2009. Yayasan MBM dalam ini mengutus Kepala Divisi Ekonomi, Drs. I Gede Mustika sebagai perwakilan lembaga dalam menyampaikan program dan rencana pelayanan lembaga di masa yang akan datang. Loka Karya ini sendiri merupakam kelanjutan dari dua (2) pertemuan sebelumnya di Makasar (2007) dan Jakarta (2008), yang bersepakat untuk menunjuk Gereja Kristen Sumatera Bagian Selatan Selain sebagai panitia Loka karya kali ini. Tujuan dari diadakannya Loka karya ini adalah untuk mencari satu jalan yang bisa dilaksanakan bersama untuk mewujudkan visi dan misi lembaga yang diwakili.  Selain menyampaikan rencana kegiatan lembaga, utusan juga diharapkan menuliskan makalah yang berisi aksi dan refleksi gereja yang diwakili (dalam hal ini; Gereja Kristen Protestan di BALI – GKPB) dalam upayanya mengatasi dan menanggulangi kemiskinan. Dalam Loka karya enam (6) hari ini diharapkan akan ada satu formula kesepakatan diantara seluruh gereja dan lembaga peserta dalam menyamakan visi dan misi menanggulangi kemiskinan, baik di daerah pelayanan masing-masing maupun di seluruh Indonesia.

Topics: Capacity Building, News | No Comments »

PELATIHAN RELAWAN HIV&AIDS REMAJA

By admin | June 22, 2009


MBM Hall, 22-23 Juni 2009

Dalam upaya penanganan dan penanggulangan penyebaran HIV&AIDS di Indonesia, khususnya di Bali, Yayasan Maha Bhoga Marga kembali menyelenggarakan Pelatihan  Relawan HIV&AIDS dan kali ini bekerjasama dengan Sekolah Menengah kejuruan (SMK) Wira Harapan. Acara pelatihan relawan ini dibuka oleh Pdt.Nengah Suama, Direktur Yayasan maha Bhoga Marga. Dalam wejangannya pada sesi pembukaan, beliau menekankan pada merebaknya jumlah penderita HIV&AIDS di Bali dalam beberapa tahun belakangan ini, dan remaja diharapkan menjadi awal dari segala upaya pencegahan penyakit ini. Dalam sesi selanjutnya, sesi ini diisi dengan interaksi antara remaja peserta pelatihan dengan dr.Luh Debora Murthy, Sekretaris Bidang Kesehatan yayasan MBM dan motivator dalam acara ini. Salah satu hal yang meanrik dalam acara ini karena semua peserta datang untuk mengikuti pelatihan atas inisiatif sendiri. “Ini merupakan salah satu indikasi yang baik dalam upaya pencegahan penyebaran HIV&AIDS. Dengan bertambahnya pengetahuan remaja mengenai HIV&AIDS, diharapkan mereka akan menghindari perilaku hidup yang beresiko” demikian imbuh Dokter yang telah 10 tahun mengabdi untuk MBM ini.

Sebanyak 18 orang peserta hadir dalam pelatihan ini. Selama dua (2) hari (22-23 Juni 2009), peserta pelatihan akan mendapatkan materi mengenai kesehatan reproduksi pria dan wanita, pengetahuan dasar mengenai HIV&ADIS, cara-cara dan media penyebarannya, serta resiko penyakit yang bias diakibatkan oleh virus berbahaya ini.  “Dalam kaitannya dengan penyebaran HIV&AIDS, pengetahuan dasar mengenai kesehatan reproduksi merupakan awal dari program pencegahan penyebaran HIV&AIDS” ungkap Verasea Manurung, fasilitator dan pembicara dalam Pelatihan ini. Tujuan dari diadakannya Pelatihan relawan ini adalah untuk memberikan pengetahuan mengenai bahaya dan dampak yang bisa ditimbulkan oleh kurangnya tentang kesehatan reproduksi pada pria maupun wanita. Diharapkan, remaja menjadi lebih waspada terhadap pola-pola hidup yang beresiko terhadap penularan HIV&AIDS.

Peserta pelatihan tidak hanya diberikan penjelasan, tetapi juga kesempatan untuk berinteraksi dan menyakan pertanyaan-pertanyan yang berhubungan dengan materi kegiatan. Selain siswa SMK Wira Harapan, juga hadir 2 orang guru yang menjadi pendamping. Antusiasme dan keingintahuan yang besar dari generasi muda kiranya menjadi salah satu cara dalam proses penanggulanagan penyebaran virus HIV&AIDS dimasa yang akan datang.

Topics: Activities, News | No Comments »

SEMINAR AND TRAINING OF TRAINERS

By admin | June 8, 2009

Denpasar, 8 Juni 2009

Yayasan Maha Bhoga Marga, dalam upayanya meningkatkan kualitas dan kapasitas lembaga, mengutus Pdt.Nengah Suama, Direktur Yayasan MBM untuk mengikuti Seminar dan Training of Trainers “Bridging Research and Policy Through Evidence-Based Policy Advocacy”. Tujuan dari keikutsertaan dalam Semiar ini adalah untuk meningkatkan kepedulian terhadap isu-isu terkini, terutama bagi lembaga yang sedang dalam pengelolaan program advokasi yang berkaitan dengan isu-isu otonomi daerah dan desentralisasi. Seminar ini sendiri akan berlangsung selama 3 hari (9-12 Juni 2009) di Bandung.

Topics: Capacity Building, News | No Comments »


« Previous Entries