PELATIHAN RELAWAN HIV&AIDS
May 10th, 2009 by adminSebagai bagian dari program pelayanannya dalam bidang kesehatan, Yayasan MBM, dalam hal ini Divisi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat, menyelenggarakan Pelatihan Relawan HIV&AIDS selama 2 hari (29-30 April 2009) di Balai Serba Guna Gereja Jemaat Pniel Blimbingsari, Melaya, Kabupaten Jembrana Bali. Peserta pelatihan adalah masyarakat di sekitar desa Blimbingsari dan Ambyarsari, Kecamatan Melaya.
Pelatihan ini dihadiri lebih dari 20 orang peserta , terdiri dari berbagai kalangan masyarakat. Kebanyakan dari peserta adalah warga jemaat Blimbingsari, tetapi ada juga beberapa yang berasal dari kawasan Negara dan Gilimanuk. Antusias dan keinginan yang begitu besar dari para peserta pelatihan untuk mengetahui informasi dasar mengenai HIV & AIDS membuat pelatihan ini berjalan dalam komunikasi dua arah, yang menghadirkan dua pembicara; yaitu dr. Luh Debora Murthy (MBM) dan Carna Wirata (YCUI).
Prosesi pelatihan ini diawali dengan renungan, refleksi dan wejangan-wejangan oleh Pdt.Ayub, mantan Bishop GPKB yang sekarang melayani Jemaat Pniel Blimbingsari. Beliau mengatakan, fakta mengenai HIV&AIDS sudah lama ada di Indonesia. Dan oleh karena itu, adalah suatu yang sangat berharga jika Yayasan MBM bersedia untuk memfasilitasi kegiatan-kegiatan sosial seperti ini. “Jika kita ingin agar penyebaran HIV&AIDS berhenti sampai disini, maka sekarang adalah waktu yang tepat untuk memulai” demikian ucap beliau. Landasan Firman Tuhan, yang memmapukan kita setiap saat, kiranya menjadi pegangan kita dalam upaya pencegahan dan penanggulangan HIV&AIDS.
Selama dua hari, pelatihan relawan HIV & AIDS dibagi dalam 2 bagian, yaitu informasi dasar mengenai kesehatan reproduksi. Lebih lanjut, dr. Debby, demikian beliau akrab dipanggil, menjelaskan secara gamblang mengenai fungsi organ-organ reproduksi. “Ada pepatah mengatakan – tak kenal maka tak sayang – demikian juga halnya dengan alat reproduksi kita..jika kita kenal, maka kita pasti akan lebih sayang dan merawatnya”, ujarnya. Kontan ucapan beliau mendapat tawa meriah dari seluruh peserta pelatihan, terutama dari kalangan ibu-ibu. Masih banyak hal yang juga dijelaskan oleh dr.Debby berkaitan dengan kesehatan reproduksi wanita, diantaranya kiat-kiat mengenali gejala-gejala penyakit kelamin dan cara-cara penyembuhan. Berawal dari pemberian informasi mengenai Infeksi Menular Seksual (IMS) inilah, informasi dasar mengenai penyakit HIV & AIDS bisa perlahan-lahan diterima oleh peserta.
Dalam sesi selanjutnya, masih dihari yang sama, penjelasan lebih jelas mengenai fakta HIV&AIDS dijelaskan secara detail oleh Carna Wirata, relawan dan juga koordinator penanggulanagn HIV&AIDS Yayasan Citra Usada Indonesia wilayah Buleleng. Planet, demikian nama bekennya di dunia LSM HIV&AIDS, mengatakan bahwa saat ini YCUI memiliki lebih dari 1500 relawan HIV&AIDS, yang tersebar diseluruh wilayah Bali, dan kebanyakan mereka difokuskan di wilayah yang ditengarai menjadi daerah yang rawan penyebaran HIV&AIDS. Bapak dua anak ini mengakui sangat senang dengan antusiasme yang ditunjukkan oleh peserta pelatihan, dan juga sangat menghargai usaha Yayasan MBM dalam memfasilitasi pelatihan relawan seperti ini. Dia juga kembali menambahkan dan memberi tips kepada peserta pelatihan, bahwa dalam menyampaikan informasi yang benar tentang HIV&AIDS, maka yang paling penting adalah cara kita berkomunikasi. “Kita harus mengenal betul karakter orang dan lingkungan yang akan kita berikan informasi..Jika tidak, informasi yang kita berikan akan sia-sia”, demikian imbuhnya. Peserta semakin tertarik dan bersemangat ketika dalam pelatihan ini juga dikenalkan kondom. Tentu saja para ibu-ibu yang sebetulnya merasa bahwa kondom adalah hal yang tabu, mau tidak mau harus mengikuti instruksi penggunaan dan pemakaian kondom yang dipraktekkan oleh Planet. Dia mengatakan “memang benar bahwa terkadang kita menerima pendapat yang kontra mengenai penggunaan kondom. Banyak yang berpendapat bahwa pemberian kondom sama halnya dengan melegalkan prostitusi atau sex bebas. Tentu saja hal itu sebenarnya salah. Saran untuk menggunakan kondom sebenarnya sangat beralasan, karena kondom adalah satu-satunya alat yang bisa mencegah penularan HIV&AIDS melalui hubungan sex” ujarnya bersemangat. Selain itu, Planet juga menambahkan, pola penularan HIV&AIDS tidak hanya melalui hubungan sex, tetapi juga memalui narkotika jarum suntik, dan juga melalui transfusi darah, akan tetapi, pola penyebaran melalui hubungan sex memang menjadi factor tertinggi dari penyebaran HIV&AIDS.
Semua peserta mengakui bahwa selama ini mereka masih sangat buta mengenai informasi HIV&AIDS, dan mereka sangat bersyukur bahwa Yayasan MBM bersidia menjadi fasilitator dalam penyampaian informasi dasar mengenai HIV&AIDS. “Dulunya kami berpikir bahwa HIV&AIDS bisa menular melalui sentuhan sehingga kami seringkali merasa ngeri jika mengetahui ada yang tertular, apalagi jika mereka adalah orang-orang terdekat kami. Tetapi sekarang, dengan terbukanya pengetahuan kami mengenai pola penyebaran penyakit ini, kami bisa lebih tenag dan tidak lagi memperlakukan mereka yang teridap dengan cara-cara yang tidak pantas”, demikian ujar salah seorang perserta pelatihan.
Pelatihan yang sangat mengesankan dan dibangun dalam suasana keakraban ini akhirnya ditutup oleh Pdt. Nengah Suama, Direktur Yayasan Maha Bhoga Marga. Beliau, dalam renungannya mengatakan, adanya sikap menutup diri dari berbagai informasi, dan budaya yang menganggap tabu mengenai hal-hal yang bersifat tersembunyi, adalah hal yang sebenarnya menjadikan HIV&AIDS ini sulit untuk ditanggulangi penyebarannya. Beliau berharap, diwaktu yang akan datang, dengan semakin banyaknya orang yang mengatahui akan dampak penyakit, maka akan semakinmemudahkan proses penanggulangannya.