Penyuluhan Pemanasan Global dan Pelatihan Pertanian Organik

Jun 1st, 2009 by admin

Ambyarsari, 9 Mei 2009


Dalam upaya peningkatan dan pengembangan ekonomi masyarakat, Yayasan MBM melalui Divisi Ekonomi dan Pembangunan masyarakat menyelenggarakan Penyuluhan Pertanian Organik bagi petani di dusun Ambyarsari, Desa Blimbingsari, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, Bali. Pertemuan yang dilaukan di Balai Banjar Dusun Ambyarsari ini diikuti oleh 20 orang warga desa dan juga anggota kelompok binaan YayasanMBM, yaitu Kelompok Tani Lestari. Momen ini juga sebagai bagian dari Perayaan Ulang Tahun kelompok tersebut yang ke-3.

Pelatihan ini diawali dengan doa bersama yang dipimpin oleh salah satu peserta pelatihan. Selanjutnya, I Gede Mustika, sebagai Kepala Divisi Ekonomi dan Pemberdayaan Masyarakat, yang juga tampil sebagai pembicara dalam Penyuluhan dan pelatihan ini, mengawali penyuluhan dengan memberikan informasi dasar mengenai pemanasan global, penyebab dan konsekuensinya.  Cara penyampaian yang sederhana dengan memberikan kesempatan kepada peserta untuk bertanya, membuat para peserta cepat menyerap informasi yang diberikan. “Bumi kita ini dikelilingi oleh sebuah selimut tebal. Panas dari matahari yang dipancarkan ke bumi akan dipantulkan lagi, sehingga bumi kita tetap terjaga temperaturnya. Tetapi sekarang, karena begitu banyaknya emisi gas karbon, baik itu dari kendaraan bermotor maupun pabrik, membuat selimut penutp bumi itu semakin tebal. Dan karenanya, panas dari matahari tidak bisa dipantulkan kembali. Inilah yang disebut dengan “Efek Rumah Kaca”, demikian imbuh beliau dalam pembukaan pelatihan ini. Oleh karena itu beliau sangat mengharapkan peran setiap orang untuk selalu menjaga kelestarian lingkungan. Alasannya tentu saja, karena pepohonan dan tumbuh-tumbuhan memerlukan karbondioksida (CO2) dalam proses fotosintesis, serta mengeluarkan oksigen (O2) yang sangat diperlukan manusia.

Dan berhubungan dengan penggalakan pertanian dengan menggunakan pupuk organik, para peserta pelatihan juga mendapatkan banyak masukan mengenai cara pengolahan pupuk organik dengan memanfaatkan bahan-bahan yang ada dilingkungan sekitar, yang disebut denagn BOKASI. Proses pengolahan ini menggunakan kotoran sapi, kotoran ayam, limbah sekam yang merupakan sisa pembakaran, tanah, dan micro-organisme yang berfungsi sebagai pengurai. Setiap beberapa hari sekali, campuran Bokasi ini harus diaduk dan dibalik, sehingga nantinya zat pengurainya bisa menguraikan semua dengan merata. Ketika gas methan dari kotoran sapi seudah hilang, artinya pupuk olahan ini sudah siap untuk dipakai. Penggunaan pupuk organik olahan ini, selain mengurangi dampak Rumah Kaca, juga bisa mengurangi pengeluaran petani dalam membeli pupuk buatan Pabrik.

Selain pelatihan mengenai pembuatan Bokasi, Dr. Gede Suwarno, Dokter Hewan sekaligus Fasilitator dalam Bidang Pertanian, mendemonstrasikan cara pembuatan cairan pestisida sebagai hasil penyulingan dari sekam padi yang dibakar. (Sekam sisa ini yang dipakai untuk pembuatan bokasi). Cairan ini bisa berfungsi sebagai obat anti hama bagi tanaman padi. “Obat yang paling baik bagi tanaman adalah sesuatu yang berada paling dekat dengan tanaman itu sendiri”, demikian tembahnya. Dengan menggunakan media sederhana, seperti bambu dan kaleng bekas, proses pembakaran itu sendiri tidak memerlukan banyak waktu. Sedikitnya 1 gelas air sulingan akan dihasilakan dari pembakaran 1 karung sekam kering. Perbandingan antara air dan pestisida alami ini adalah 1:10, artinya 1 liter pestisida dicampurkan dengan 10 liter air. Para peserta sangat antusias dengan semua kegiatan ini. Selain disampaikan dengan cara yang sederhana sehingga mudah dimengerti, mereka juga mengakui bahwa sebenarnya mereka selama ini tidak menyadari akan potensi yang ada dilingkungan sekitar mereka. Dan karenanya, mereka sangat bersyukur bisa mendapatkan pengetahuan tambahan ini dari Yayasan Maha Bhoga Marga.

Category: Activities

Leave Comment