ORIENTASI DAN STUDI BANDING YAYASAN TBL DAN YAYASAN THM

Jun 4th, 2009 by admin


Yayasan Maha Bhoga Marga, sebagai sebuah lembaga yang cukup berpengalaman dalam bidang pelayanan sosial dan pengembangan ekonomi masyarakat, menerima kedatangan tamu dari dua (2) lembaga lain dari Pulau Sulawesi yaitu: Yaitu Titian Budi Luhur dan Yayasan Tunas Harapan Mandiri. Perwakilan dari masing-masing lembaga adalah I Nyoman Suardana (Yayasan TBL) dan I Made Rai Widhya Adhi (Yayasan THM). Selama 3 hari (25 – 28 Mei 2009), Yayasan MBM. Yayasan TBL dan Yayasan THM saling berbagi pengalaman mengenai program-program pelayanan masyarakat yang selama ini telah dilaksanakan dan metode-metode penerapannya. Program pelayanan Yayasan MBM, baik itu dari Divisi Ekonomi dan Pembangunan Mayarakat maupun dari Divisi Kesehatan dan Advokasi, selama ini sudah menjadi pioneer bagi lembaga-lembaga yang lain untuk dicoba di tempat mereka melakukan pelayanan. Demikian juga halnya dengan Yayasan TBL dan Yayasan THM, yang ingin mengetahui lebih detail mengenai program pelayan kesehatan dan ekonomi yang selama ini sudah diterapkan oleh Yayasan MBM.

Kunjungan orientasi dan studi banding kali ini lebih banyak diisi dengan kegiatan kunjungan ke lapangan menemui kelompok maupun individu yang sudah dilayani oleh Yayasan Maha Bhoga Marga. Hari pertama, bersama dengan Pimpinan Yayasan MBM, I Nyoman Suardana (Yayasan TBL) dan I Made Rai Widhya Adhi (Yayasan THM) lebih banyak berdiskusi mengenai pengejawantahan program, system penyusunan rencana kerja, pengimplementasian program dan pola-pola penanganan masalah dalam kelompok maupun individu. Selain memberikan informasi bagi lembaga jaringan kerja, Yayasan MBM juga banyak menerima informasi-informasi penting mengenai program-program pertanian dan peternakan yang sedang dilaksanakan oleh Yayasan TBL dan Yayasan THM.

Dan dalam kaitannya dengan rencana pengembangan peternakan sapi di Sulawesi, yang merupakan pilot project bagi kedua Yayasan ini, pada hari ke-dua diskusi lebih banyak difokuskan pada pembentukan kelompok sapi, pengembangan biogas dari pengolahan limbah sapi, sampai kepada pembuatan BOKASI menggunakan limbah kotoran sapi. Pada hari ke-dua, kegiatan studi banding dan orientasi ini diisi dengan mengadakan kunjungan ke masyarakat yang merupakan binaan Yayasan Maha Bhoga Marga. Yayasan Maha Bhoga Marga, melalui coordinator pembentukan Kelompok Peternak Sapi, yaitu I Wayan Budiyasa banyak memberikan informasi-informasi yang implementatif sehingga nantinya mudah diserap dan diterapkan oleh Yayasan TBL dan THM.

Pada hari selanjutnya kunjungan kerja, orientasi dan studi banding ini dilanjutkan dengan mengunjungi Pasar Sapi Bringkit yang terletak di Mecamatan Mengwi, Kabupaten Badung BALI. Pasar tradisional ini merupakan tempat Yayasan MBM biasanya melakukan transaksi, baik itu untuk membeli sapi induk untuk didistribusikan kepada peternak maupun untuk menjual ternak sapi yang dianggap sudah tidak produktif, dan nantinya akan dijadikan sapi potong. Banyak hal yang dibahas dalam kunjungan kali ini, mulai dari cara memilih induk sapi yang sehat, kriteria dan umur yang produktif dan negosiasi harga. “Sapi Bali, jenis yang diternakkan oleh kelompok binaan Yayasan MBM, merupakan spesies unik yang hanya ditemukan di Bali, dan karenanya mungkin berbeda dengan jenis sapi yang akan diternakkan di Sulawesi”, demikian menurut salah satu dari perwakilan dari Sulawesi ini.

Pada hari ke-empat, hari terakhir dari program orientasi ini, diisi dengan kunjungan ke Kelomok Sapi di Banjar Kemukus, Desa Trunyan Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Lokasi yang berada di perbukitan sejuk di daerah Utara Bali ini merupakan tempat yang juga menjadi dan kesehatan. Beberapa kelompok sapi yang sudah menjadi binaan Yayasan MBM maupun yang masih dalam tahap negosiasi tidak luput dalam kunjungan ini. Salah satunya adalah mengunjungi Kelompok Peternak Sapi Panca Karya. Kelompk yang terdiri dari 5 orang ini mendapat bantuan sapi induk dari Yayasan MBM, masing-masing 2 ekor sapi induk untuk setiap anggota. Periode bantuan ini akan berlangsung selama 15 bulan, terhitung sejak kelompok menerima ternak sapi dari Yayasan MBM. Dalam periode ini, setiap kelahiran pertama dari semua ternak sapi akan dikembalikan kepada Yayasan MBM untuk nantinya dijadikan bibit bagi kelompok yang lain, dan atau untuk dijual dan dananya akan dipakai untuk memfasilitasi kelompok lainnya. Pada kelahiran ke-dua dank e-tiga akan sepenuhnya menjadi milik anggota kelompok. Secara swadaya, masing-masing anggota kelompok akan mengusahakan pakan untuk ternak sapi ini. Diharapkan, seminimal mungkin anggota kelompok tidak mengeluarkan biaya untuk pakan ternak. Kondisi alam pegunungan Kintamani yang sejuk dan subur bisa dimanfaatkan untuk pengembangan Rumput Gajah (King Grass), jenis yang sangat cocok untuk penggemukan ternak sapi.  Para anggota kelompok tampaknya sangat antusias dengan program peternakan sapi ini, dan mereka berharap suatu saat nanti pada akhirnya mereka akan mandiri. Dalam waktu 15 bulan setelah perjanjian kerjasama ini berakhir, Yayasan MBM bersama dengan semua anggota kelompk kembali akan mengevaluasi semua kegiatan, dan bila memungkinkan kerjasama perternakan akan dilanjutkan untuk periode selanjutnya. Jika sapi induk dianggap sudah tidak produktif lagi, maka Yayasan MBM bersedia untuk menggantinya dengan sapi induk yang lain. Dengan cara seperti ini diharapkan peternak sapi menjadi lebih termotivasi dalam mengembangbiakkan ternaknya. Disaat yang sama, Yayasan MBM bersama kedua perwakilan dari Sulawesi ini juga mengunjungi Kelompok Peternak Sapi Buana Giri. Kelompok ini masih berada dalam tahap awal untuk pengembakbiakan ternak sapi. Dan untuk mendukung lancarnya proses awal ini, Yayasan MBM memfasilitasi Kelompok ini dengan bantuan Asbes dan semen untuk pembuatan kandang sapi.

Masih dihari dan tempat yang sama, kunjungan dilanjutkan ke kelompok binaan lainnya, yang kali ini sudah memanfaatkan limbah kotoran sapi untuk pembuatan biogas. Dalam hubungannya dengan pembuatan biogas ini, menurut I Nyoman Suardana, perwakilan dari Yayasan TBL, akan sangat membantu dalam pemanfaatan energi alternative. “Program yang sangat bagus. Peternak sendiri pastinya akan sangat banyak mendapat keuntungan dari program peternakan mereka. Selain memperoleh keuntungan langsung dari ternaknya, limbah dari ternak sapi juga bisa dipakai untuk menekan pengeluaran untuk  bahan bakar, khususnya untuk memasak”, tambahnya. Detail dan teknis pembuatan, pengolahan dan pemanfaatan hasil limbah, seperti telah dijelaskan pada hari pertama, dijelaskan kembali oleh Drs.Gede Mustika, Kepala Divisi Ekonomi dan Pengembangan Ekonomi Masyarakat. Beliau mengharapkan, nantinya Yayasan TBL dan THM bisa menerapkan hal yang sama di tempat mereka melayani.

Category: Activities, News

Leave Comment