Main Menu

Archives

Click for Denpasar, Indonesia Forecast

« PERTEMUAN TENGAH TAHUN 2009 - KELOMPOK SWADAYA MASYARAKAT (KSM) dan KELOMPOK PEREMPUAN MANDIRI (KPM) | Main | Christian Lay Leadership Training (CLLT) »

PASTORAL KONSELING ‘TRAINING ON TRAINERS’ JARINGAN KERJA-LEMBAGA PELAYANAN KRISTEN (JK-LPK)

By mbm001 | November 15, 2009


Kerjasama: JK-LPK, Mission 21 dan Yayasan Maha Bhoga Marga (MBM)

Sebagai sebuah organisasi yang mewadahi lembaga-lembaga pelayanan Kristen, dan dalam upayanya menekan dan menghambat perkembangan virus HIV & AIDS yang terus merebak di tengah masyarakat, JL-LPK merasa perlu untuk terus menggalakkan dan mengkampanyekan program-program untuk menekan perkembangan virus ini. Dan oleh kaena itu, pada tanggal 30 Oktober – 2 Nopember 2009, bertempat di Hall Yayasan MBM, Kapal, JK-LPK bekerjasama dengan Mission 21 menyelenggarakan Pelatihan dengan Tema “TRAINING ON TRAINERS - PASTORAL KONSELING”. Pelatihan yang diselengarakan selama 4 hari ini dihadiri oleh perwakilan dari seluruh anggota JK-LPK dari semua regional, baik itu dari regional Papua, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Jawa dan bahkan Sumatera. Sebanyak 35 peserta sebagai perwakilan dari setiap lembaga ikut serta dalam workshop ini.

Pelatihan hari pertama dimulai dengan sambutan dan doa bersama yang dipimpin oleh Direktur Yayasan MBM, Pdt. Nengah Suama. Dalam sambutannya, sambil memperlihatkan video tentang penyebaran virus HIV & AIDS, dan juga tentang berbagai macam penyakit yang menyebabkan cacat fisik,  beliau menekankan bahwa apa yang dialami oleh manusia bukanlah karena dosa dan kesalahan manusia, baik itu oleh orangtuanya ataupun oleh dirinya sendiri. Dalam pembacaan dari Perjanjian Baru, jelas sekali dinyatakan bahwa cacat fisik manusia adalah agar kemuliaan Allah dinyatakan di tengah-tengah manusia. “Apa yang dialami oleh mereka di dalam video tadi bukanlah karena dosa mereka, tetapi semuanya merupakan isi dari rencana Allah” demikian imbuh Pendeta yang saat ini melayani di GKPB Jemaat Pegending. Workshop kemudian dilanjutkan dengan perkenalan antar peserta yang dipandu oleh Ibu Tanty sebagai perwakilan dari JK-LPK Pusat, Jakarta. Sesi malam ini ditutup dengan ibadah malam yang dipimpin oleh salah seorang peserta pelatihan.

Pada hari ke-dua, setelah dibuka dengan renungan singkat dan review mengenai apa yang telah diperoleh pada hari sebelumnya, workshop dilanjutkan dengan sesi tentang informasi dasar mengenai HIV & AIDS yang disampaikan oleh dr.Luh Deborah Murthy, yang juga adalah Kepala Divisi Kesehatan dan Advocacy. Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan apa itu virus HIV, bagaimana cara-cara penularannya serta bagaimana cara penanggulanganny yang salah satunya melalui penggunaan kondom Beliau menambahkan bahwa dewasa ini kasus-kasus baru HIV terus bermunculan, dan adalah kewajiban kita untuk bahu membahu dan bersama-sama. Dalam sesi ini juga dilanjutkan dengan memberikan kesempatan kepada peserta untuk mengajukan pertanyaan yang berkenaan dengan materi HIV & AIDS. Salah seorang peserta Vic.Vincent menanyakan: “apakah dengan menggunakan kondom melanggar ayat Kitab Suci yang mengatakan untuk beranak cucu dan memenuhi bumi?” Pertanyaan ini mendapat respon dari peserta lain, salah satunyad dari Pak Yoseph dari Papua. Dalam tanggapannya dia mengatakan bahwa perintah untuk memiliki anak harus disesuaikan dengan kondisi terkini, yaitu dari segi ekonomi dan sisi kesehatan. “Jika tujuan penggunaan kondom adalah untuk menghindari penyebaran HIV, maka saya merasa itu tidak bertentangan dengan Kitab Suci” ujar beliau bersemangat. Persoalan moral memang menjadi isu serius dan menimbulkan kontroversi dalam hal ini, terutama jika dikaitkan dengan gereja. Ada pendapat yang mengatakan bahwa pelegalan penggunaan kondom sama artinya dengan pelegalan prostitusi, dan ini melanggar hukum tentang perzinahan seperti yang terdapat dalam Kitab Suci. Banyak juga tanggapan yang muncul yang kontra terhadap pemikiran itu. Bahwa menggunakan ondom sebagai salah satu cara untuk menghambat penularan HIV memang benar, tetapi melakukan perzinahan dengan alas an pemanfaatan kondom tentu saja adalah sesuatu yang melanggar hukum Allah, dan ini merupakan dosa. Pada pelatihan hari ke-dua ini kontroversi mengenai penggunaan kondom yang ditinjau dari sisi moral menjadi bahan diskusi yang serius bagi para peserta.

Di sela-sela diskusi dan perdebatan mengenai kondom, pada sesi ini juga diperkenalkan dua macam kondom , yaitu untuk pria dan wanita. Petunjuk cara penggunaan yang dipraktekkan oleh Anna, salah seorang peserta dari Papua mengundang gelak tawa dari para peserta lainnya yang sebelumnya bahkan belum pernah melihat benda yang terbuat dari plastik tipis ini. Selain ada kondom untuk laki-laki, ada juga kondom untuk perempuan. Dalam posisi ketidaksetaraan, wanita juga memiliki hak untuk menggunakan kondom, untuk melindungi dirinya dari kemungkinan tertular HIV. Beliau menunjukkan jenis kondom untuk perempuan. Jenis kondom ini sedikit berbeda dari kondom yang digunakan oleh laki-laki, karena memiliki bantalan. Cara pemakaiannya, bantalan kondom ditekuk, dan dimasukkan perlahan-lahan ke dalam lubanga vagina, dan bantalan tersebut akan mengembang setelah berada di dalam lubang vagina. Kondom perempuan kemudian diedarkan kepada seluruh peserta untuk melihat bagaimana bentuk sebenarnya.

Setelah penjelasan mengenai kondom, dilanjutkan dengan ice breaking. Peserta diajak berdiri untuk memainkan permainan, dimana setiap peserta diajak harus mencari teman yang memiliki warna baju yang sama, atau berasal dari daerah yang sama. Ketika yang disebutkan adalah warna merah, maka setiap peserta yang memiliki baju berwarna merah harus bertukar tempat dengan peserta lainnya yang juga memakai baju merah. Yang tidak berhasil mendapatkan tempat, maka akan dikenai hukuman untuk berdiri di depan. Hukuman diberikan oleh ketua kelas dengan mengharuskan peserta berlari ditempat ketika dia meneriakkan kata “Ada Singa”. Peserta harus berlari perlahan ketika ketua kelas mengatakan “singanya masih jauh”, dan kembali berlari cepat ketika dia berteriak “singanya sudah dekat”.

Sesi selanjutnya diisi dengan penjelasan mengenai IMS (Infeksi Menular Seksual). Pada sesi ini, peserta dibagi ke dalam 4 kelompok, dimana di dalam kelompok para peserta berdiskusi mengenai IMS. Peserta diwajibkan untuk mendiskusikan informasi apa saja yang mereka ketahui mengenai IMS, untuk kemudian dipresentasikan. Informasi yang diketahui oleh satu kelompok mungkin tidak diketahui oleh kelompok lainnya, dan  karena itu berbagi informasi mengenai IMS adalah sesuatu yang sangat berguna bagi kelompok lainnya. Pada sesi penutupan, setelah acara makan malam bersama, workshop hari kedua ditutup dengan ibadah malam yang dipimpin oleh salah seorang peserta.

Pada hari ketiga, pelatihan kembali dilanjutkan dan materi kali ini adalah tentang PASTORAL KONSELING  yang disampaikan oleh Pdt. Emmy Sahertian dari GPIB Jakarta. Apa itu pastoral konseling? Percakapan yang efektif antara konselor dan klien, atau kalau saya melihat hasil diskusi ada berbagai jawaban hubungan antara Tuhan dan manusia, kejatuhan manusia dalam dosa, adam dan hawa, surga dan neraka. Gereja-gereja masih dikatakan mendiskriminasi paling tinggi, padahal gereja harusnya merangkul mereka, kita melihat teladan Yesus yang memang sungguh-sungguh melayani. Mari kita berlaku seperti Yesus, mencoba meniru teladan Yesus dalam memberi pelayanan. Pada sesi ini juga diadakan praktek percakapan antara Konselor sebagai pendamping dan Klien sebagai dampingan. Peserta diberikan kesempatan untuk dilatih mengenai teori-teori pendekatan yang bias digunakan dalam proses konseling, sehingga informasi yang ingin digali oleh konselor bisa keluar dengan tampa adanya paksaan. Simpati dan Empati adalah dua hal yang mutlak dimiliki oleh konselor dalam upayanya mendampingi dan memberikan dukungan kepada kliennya. Penekanan juga diberikan pada proses komunikasi dimana dalam proses ini terkdang timbul konflik kecil antara konselor dan dampingan. Oleh karena itu, pengenalan akan teori dan cara-cara yang benar dalam melakukan konseling merupakan hal yang sangat bermanfaat bagi peserta setelah mereka nantinya kembali ke daerah pelayanannya masing-masing.

Setelah permainan, sesi dilanjutkan dengan ceramah oleh Pdt. Emmy Sahertian. Menurutnya, permainan ini mirip dengan proses konseling, dimana terkadang informasi yang kurang bisa menghasilkan keputusan yang salah. Beliau kemudian memainkan sebuah video animasi mengenai virus HIV, dimulai dari proses masuknya virus, proses penerimaannya di dalam tubuh manusia, bagaimana virus ini bisa menjadi senyawa dengan sel darah putih manusia, lalu kemudian, setelah masuk ke dalam sel darah putih, virus tersebut berkembang dan mulai membelah dan berkembang, dan perlahan-lahan menguasai seluruh sel darah putih manusia. Sel-sel virus ini terus membelah dan mambuat replika virus yang baru, dan merubah DNA manusia menjadi DNA virus. Ada terapi untuk menghambat perkembangan virus ini, dengan tujuan untuk menghentikan perkembangan virus agar virus ini tidak bisa lagi membelah dan berkembang.

Diharapkan dalam proses konseling, tidak terjadi hal-hal yang menyebabkan virus ini menular dan berkembang di dalam tubuh manusia yang lain. Adanya pastoral konseling bisa menghambat perkembangan virus, karena orang yang mendapat pendampingan bisa memiliki semangat untuk terus berperang melawan virus melalui doa dan gaya hidup sehat. Pendampingan remaja dimulai ketika semua organ tubuhnya mulai berfungsi. Kerangka berpikir yang benar harus diberikan kepada remaja sejak dini. Terlambatnya informasi kepada remaja bisa menimbulkan perilaku beresiko. Melalui video yang sudah ditayangkan sebelumnya, betapa canggih dan berbahayanya virus HIV yang menyerang tubuh manusia. Oleh karena itu, pemberian informasi sedini mungkin melalui pelayanan pastoral konseling bisa menghambat perkembangan virus di dalam tubuh ODHA.

Pastoral konseling itu bukan sekedar moral, tapi juga mengenai kehigienisan dalam bidang kesehatan. Sebagai contoh, dalam pemeriksaan darah malaria di beberapa daerah di wilayah timur Indonesia seringkali menggunakan jarum suntik yang tidak steril. Sedikit saja rongga yang tersisa di dalam jarum suntik, maka kemungkinan untuk membawa virus sangat besar. Penularan virus HIV tidak hanya berkaitan dengan moral (seks bebas) tetapi juga sebenarnya bisa melalui berbagai cara seperti jarum suntik, tranfusi darah, ataupun melalui luka dan nanah. Prinsip penularan HIV tidak bisa berada di luar tubuh manusia. Pengenalan informasi mengenai HIV yang benar sangat penting dalam proses konseling, karena dengan tidak lengkap dan tidak ilmiahnya informasi HIV yang diberikan bisa membuat pendampingan menjadi tidak efektif. Kita harus paham benar cara-cara penularan, dan kita tidak boleh sok tahu. Dalam proses konseling, terkadang bukan HIV yang menular, melainkan virus lain selain HIV yang menjangkit. Begitu juga sebaliknya, konselor bisa menularkan virus lain seperti TBC dan Hepatitis kepada dampingan (ODHA), dan ini bisa membuat ODHA mudah terkena dan memperburuk system kekebalan tubuhnya. Memandikan mayat yang teridap HIV termasuk dalam pastoral konseling, karena berhubungan dengan memperlakukan manusia dengan baik.

Pada bagian akhir sesi malam, terdapat perdebatan serius mengenai kontroversi penggunaan kondom seperti halnya pada hari pertama. Ada beberapa peserta yang tidak setuju dengan penggunaan kondom, karena ini sama halnya dengan melegalkan perzinahan. Tetapi peserta lainnya mengatakan bahwa penggunaan kondom tidak bisa dihubungkan dengan moral. Menurut Pdt.Emmy, kondom adalah alat edukasi. Kondom adalah alternative terakhir untuk mencegah penularan HIV. Persoalan moral tidak bisa dihubungkan dengan permasalahan kondom. Meskipun demikian, persoalan mengenai hal ini akan terus menjadi kontroversi.

Pelatihan hari ke-4 dibuka oleh Ibu Tanty (JK-LPK) dengan memainkan sebuah permainan. Peserta dibagi ke dalam 6 kelompok. Setiap kelompok diharuskan berdiri dalam barisan, berlomba dari satu ujung ruangan ke ujung ruangan lainnya. Aturan perlombaannya adalah setiap peserta dalam kelompok memegang secarik kertas sebesar telapak kaki, dan diletakkan di atas lantai untuk dijadikan pijakan. Peserta yang di depan berjalan dahulu, lalu kemudian diikuti oleh peserta lainnya yang berdiri dibelakangnya. Setelah peserta di depan meletakkan kertas pijakan, peserta yang di belakang harus melakukan hal yang sama. Jika kertas yang diletakkan jauh dari  jangkauan peserta di belakangnya, maka pastinya peserta yang dibelakangnya akan ketinggalan. Kelompok yang paling kompaklah yang akhirnya berhasil memenangkan perlombaan. Dalam hubungannya dengan konseling, permainan ini membawa pesan bahwa antara konselor dan dampingan harus saling kompak.

Sesi selanjutnya adalah presentasi dari para peserta mengenai VERBATIM. Peserta dibagi ke dalam kelompok-kelompok yang masing-masing terdiri dari 3 orang peserta. Masing-masing memiliki fungsi sendiri-sendiri; ada yang berfungsi sebagai Pewawancara, satu orang lainnya sebagai orang yang diwawancara, dan satu orang lainnya bertugas merekam semua pembicaraan. Rekaman pembicaraan ini berdasarkan apa yang dialami sendiri oleh para peserta ketika melakukan studi lapangan di Pantai Kuta. Tidak semua kelompok bisa mempresentasikan apa yang dialaminya karena keterbatasan waktu.

Ibu Emmy Sahertian berpendapat bahwa Verbatim yang dilakukan sudah bagus dari sisi penggalian informasi, hanya saja terkadang konselor lupa untuk masuk ke dalam dunia dampingannya. Empati yang seharusnya muncul dari dalam diri konselor, justru muncul dari pihak yang lain. Kesedihan yang dirasakan oleh dampingan justru menimbulkan perasaan sedih yang berlebihan, dan bisa menjadikan posisi konselor sebagai dampingan. Dan jika yang ini yang terjadi, maka proses konseling akan terbalik, dan tidak efektif.

Dalam konseling, ada tahapan, maksud dan tujuan serta keterampilan. Dalam tahap awal, konseling harus dimulai dari kebersamaan, harus hadir dan berasa bersama. Tujuan yang ingin dicapai adalah untuk membangun kebersamaan. Keterampilan yang dibutuhkan dalam tahapan awal adalah mau mendengarkan secara aktif. Setelah melewati proses pada tahapan awal, selanjutnya adalah menggali dan menanggapi sebagai refleksi perasaan. Tujuannya adalah untuk memahami dampak dari pergumulan yang sulit yang dialami oleh dampingan. Keterampilan yang dibutuhkan adalah kemampuan mengungkapkan kembali rekaman pembicaraan dengan menggunakan kata-kata sendiri untuk menggambarkan apa yang sebenarnya dialami oleh dampingan.

Dalam rangkaian penjelasan, ditampilkan contoh tentang perasaan seorang IBU yang berkelahi dengan anaknya, dimarahi suaminya, diomeli bosnya. Setiap peserta diberikan kesempatan untuk bertindak sebagai konselor, dan mengutarakan pendapatnya. Banyak pendapat yang diungkapkan tidak merasakan kesedihan yang dialami oleh dampingan. Yang terutama dalam proses konseling adalah menguraikan perasaan yang dialami dampingan, dan bukan menghakimi.

Worksop 4 hari ini akhirnya ditutup dengan penyusunan Rencana Tindak Lanjut oleh masing-masing peserta dan komitmen mereka dalam upaya penanggulangan HIV & AIDS melalui Patoral Konseling. Kiranya TUHAN berkenan dengan semua upaya yang kita lakukan.

Topics: Activities |

Comments