Bu Murni (bukan nama sebenarnya), berusia 35 tahun, datang ke kamar praktek bersama suaminya, Pak Murna (juga bukan nama sebenarnya) yang sakit batuk, sesak. Dia juga mengeluhkan berat badannya yang makin hari makin kurus. Segera saya bisa melihat bahwa Pak Murna sangat kurus dan pucat. Otak saya langsung menduga Pak Murna terinfeksi HIV.
Saya mencoba menggali informasi yang lebih mendetail tentang kemungkinan bapak ini terinfeksi HIV. Pak Murna mengatakan bahwa dia bukan pemakai narkoba suntik dan juga bukan orang yang suka mencari ’sundel’ yang bayarannya hanya Rp. 25.000 an. Tapi dia bilang, dia memang kadang-kadang kalau punya uang, ke kafe dan cari cewek yang bayarannya mahal, Rp. 100.000 an dengan teman-temannya sesama tukang bangunan.
Istrinya yang seorang pekerja domestik alias pembantu rumah tangga marah, kecewa dan sangat sedih. Rupanya bapak ini seringkali bohong, upahnya belum dibayar, uangnya ’ditilep’ pemborong, tapi ternyata dipakai untuk cari ”cewek”. Bapak ini juga mengakui bahwa dia sering kena penyakit ’kelamin’ seperti kencing nanah dan kemaluannya luka. Dia berobat ke dokter sendiri, dan sebenarnya dokter menyarankan dia mengajak istri juga berobat tapi saran dokter ini diabaikannya.
Ketika saya menyampaikan tentang HIV, Bu Murni menangis, dia merasa sangat takut kalau suaminya dan dia juga benar-benar kena AIDS. Kami membuat janji untuk ke rumah sehat pada tanggal 31 Desember 2009 jam 8.30 pagi untuk VCT dan test HIV. Test HIV menyatakan bahwa Pak Murna telah terinfeksi HIV sedangkan istrinya masih ’non reaktive’. Namun bukan berarti dia pasti tidak terinfeksi HIV. Dua hari yang lalu, tanggal 29 Desember 2009, mereka melakukan hubungan suami istri tanpa kondom. Sebelumnya juga tidak pernah memakai kondom. Tetapi mereka mengatakan bahwa belum tentu sebulan sekali melakukan hubuangan suami istri. Jadi saat ini Bu Murni dalam periode jendela. Untuk memastikan, maka kami menyarankan Bu Murni melakukan test HIV ulang pada tanggal 29 Maret 2010.
Hari itu Bu Murni juga melakukan pemeriksaan Pap Smear, yang lengkap dengan pengambilan cairan kemaluan untuk test Gonorhoe (kencing nanah) dan bakteri lainnya. Ternyata Ibu Murni menderita Gonorhoe.
Selama tahun 2009, MBM telah melakukan pemeriksaan pap smear untuk 837 perempuan di seluruh Bali, anggota jemaat GKPB, pasien di Rumah Sehat, maupun kelompok dampingan di desa-desa. 41 perempuan (5%) dari mereka ditemukan menderita Gonorhoe. Penyakit ini adalah salah satu dari infeksi menular seksual. Bila seorang menderita infeksi menular seksual, berarti orang tersebut juga beresiko terinfeksi HIV.
Sehubungan dengan itu, maka team kesehatan MBM sepakat untuk menganjurkan setiap perempuan yang ditemukan menderita infeksi menular seksual, maka orang tersebut dianjurkan untuk konseling (VCT) dan test HIV. Selama tahun 2009 MBM melakukan layanan VCT dan test HIV terhadap 45 orang, 23 orang perempuan dan 22 orang laki-laki. 12 orang dinyatakan reaktif, artinya mereka telah terinfeksi HIV.
Pasca test, teman-teman pendamping mendampingi klien untuk bisa menerima kenyataan bahwa mereka terinfeksi HIV dan bagaimana bisa tetap hidup berkualitas selama mungkin. Mengusahakan pola makan sehat, tidur yang teratur, tidak merokok, mengusahakan berbagai penyakit infeksi, serta secara rutin melakukan test darah untuk memantau jumlah CD4 dalam tubuh mereka.
Dari pemeriksaan CD4, ditemukan 3 orang sudah dalam keadaan AIDS, yakni jumlah CD4-nya kurang dari 200, dan 8 orang dalam fase asymptomatik, jumlah CD4-nya berkisar antara 294 – 464.sedangkan ada 1 orang laki-laki berusia 26 tahun dari Denpasar lepas dari pantauan kami. Dia mengganti nomor telepon dan pindah tempat tinggal.
MBM memulai pelayanan untuk mencegah dan menanggulangi HIV sejak awal tahun 2008. Saat itu MBM tidak memiliki satu orang pun dampingan ODHIV. Di akhir tahun 2009 MBM mencatat ada 62 teman-teman ODHIV yang menjadi dampingan MBM. 95% terinfeksi HIV melalui hubungan seksual dan 50% dari dampingan adalah ibu rumah tangga dan anak-anak yang dilahirkan dari ibu yang terinfeksi HIV.
Ancaman HIV di Bali saat ini sedemikian besar. Dinas Kesehatan Provinsi Bali melaporkan bahwa Orang dengan HIV dan AIDS di Bali per November 2008 berjumlah 2323 orang yang terdiri dari 1685 laki-laki dan 638 perempuan. 54 orang dari mereka saat ini telah meninggal dunia. 61% tertular HIV melalui hubungan seksual dan 28% adalah IDU. 35 orang (1%) dari mereka adalah bayi yang tertular dari ibunya.Ditenggarai kebanyakan laki-laki yang tertular HIV mendapat virus ini melalui hubungan seksual yang beresiko. Survey yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Propinsi Balimengatakan bahwa pelanggan pekerja seks di Bali tahun 2008 cukup tinggi, yakni sebanyak 85.000 laki-laki selama setahun. Sementara jumlah pekerja seks baik langsung maupun tak langsung yang terdata sebanyak 8.800 perempuan. Para pekerja seksini mengatakan bahwa 80% pelanggan tidak bersedia untuk memakai kondom padahal 30% dari pekerja seks di Bali disinyalir telah terinfeksi HIV. Jika saja tiap malam para pekerja seks tersebut berkencan dengan seorang pelanggan dan dalam setahun tiap orang bekerja selama 250 hari, dengan kemungkinan tertular melalui hubungan seks sebesar 1%, maka dalam setahun ada 5280 laki-laki akan tertular HIV.
Ketika memulai pelayanan ini, Pokja HIV GKPB menetapkan tujuan pelayanan MBM adalah Membangun pemahaman dan kesadaran masyarakat khususnya warga gereja dalam merespon HIV/AIDS secara benar untuk menciptakan masyarakat yang bebas dari ketakutan terhadap HIV/AIDS. Situasi di atas menjadi tantangan besar bagi GKPB khususnya MBM, apa yang harus dilakukan agar HIV tidak menjadi ancaman bagi warga GKPB dan juga masyarakat di Bali?