Salam Damai dari Thailand

Apr 19th, 2010 by mbm001

Meskipun diliputi sedikit kecemasan karena suasana kota Bangkok, Thailand  yang tidak kondusif sebagai akibat dari begitu maraknya demonstrasi menentang pemerintah, Puji TUHAN, perjalanan untuk menghadiri kegiatan ACISCA “Peace Building Workshop” kali ini tidak menghadapi kendala apapun.

Yayasan Maha Bhoga Marga (MBM), sebagai salah satu dari 52 organisasi lainnya yang merupakan anggota ACISCA (Jaringan Kerja Lembaga Pelayanan Kristen di Asia) turut mengambil bagian dalam workshop ini. Dua orang utusan dari Yayasan MBM hadir dalam kapasitas yang berbeda. Pdt.Nengah Suama (Direktur Yayasan MBM) hadir sebagai Executive Board Member dari ACISCA, sedangkan Ferdinand Paratu (Staff) hadir sebagai peserta workshop. Adapun pelaksanaan workshop kali ini berpusat di Student Christian Centre (SCC) Bangkok, sebuah pusat pendidikan dan asrama bagi mahasiswa dan pelajar yang bernaung di bawah Church of Christ, Thailand, dan berlangsung dari tanggal 8 – 11 April 2010. Peserta yang diundang untuk hadir berasal dari berbagai negara seperti Indonesia, Thailand, India, Bangladesh dan Pakistan. Semuanya merupakan perwakilan dari lembaga anggota ACISCA di Asia.

Dalam sesi pembukaan workshop, Yayasan MBM mendapat kehormatan untuk memimpin ibadah untuk mengawali kegiatan ini. Dalam renungannya, Pdt. Nengah Suama mengambil bacaan tentang khotbah di bukit (Matius 5), dimana didalamnya Tuhan Yesus bersabda bahwa berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak Allah. Beliau menekankan, dalam hubungannya dengan “Peace Building Workshop” kali ini, perlu bagi kita semua, terlebih para peserta workshop, untuk menjadi pembawa damai dan pembawa pesan perdamaian bagi setiap orang yang berada di sekitar kita. “Hanya dengan cara inilah kita layak disebut anak-anak Allah” demikian tegas beliau.

Setelah sesi ibadah pembukaan yang juga dihadiri oleh semua staff Student Christian Centre (SCC), Workshop secara resmi dibuka oleh Prof.Dr.John Zechariah (Chairman ACISCA) dengan meluncurkan buku tentang kegiatan ACISCA terdahulu yaitu Christian Lay Leadership Training (CLLT) yang dilaksanakan di Yayasan MBM – Bali pada bulan Desember 2009. Ini kembali menjadi suatu kebanggaan bagi Yayasan MBM karena dinilai baik dari segi penyelenggaraan dan memuaskan dari segi dokumentasi. Setiap lembaga juga mendapatkan 1 eksemplar dari buku yang berisi semua materi CLLT dan foto selama proses kegiatan pelatihan.

Kegiatan hari pertama diisi dengan ceramah oleh Mr.Jatuparit Chempunut, cendekiawan Katolik Thailand yang membeberkan fakta-fakta tentang masih begitu maraknya kekerasan di Asia. Dalam penjelasannya, Asia menjadi salah satu tolok ukur perdamaian dunia saat ini, karena hampir 2/3 dari penduduk dunia berdiam di benua ini, dan karenanya hal ini menjadi keprihatinan kita bersama.

Hal ini juga diamini oleh pembicara berikutnya, yaitu Dr.Prawate Kidarn, Sekretaris Jenderal dari CCA. Dalam presentasinya yang berjudul “A Collective Responsibility of Civil Society for Peace Building” beliau menegaskan bahwa pembangunan perdamaian merupakan tanggung jawab bersama setiap anggota masyarakat, termasuk juga kita semua.

 Setelah diselingi dengan makan siang, kegiatan dilanjutkan dengan penjelasan oleh Mr.Mehboob Sada, Sekretaris ACISCA. Dalam sesi ini beliau menitikberatkan pada kesamaan budaya, nilai dan warisan kekayaan yang sama-sama kita miliki. “Dengan lebih memusatkan perhatian pada kesamaan, maka dengan sendirinya kita akan mampu melupakan perbedaan yang ada diantara kita, perbedaan yang seringkali menjadi sumber konflik” demikian imbuh pembicara asal Pakistan ini. Setelah sesi ini berakhir, perwakilan dari tiga (3) negara yaitu Indonesia, India dan Pakistan mendapat kesempatan untuk menyampaikan laporan mengenai keadaan terkini di negaranya masing-masing. India diwakili oleh Mr.Arulappan, Pakistan diwakili oleh Mrs. Zorin Elizabeth, sedangkan perwakilan Indonesia adalah Pdt.Nengah Suama. Dalam laporannya, beliau membeberkan beberapa hal yang bisa menjadi pemicu konflik, terutama kasus terorisme yang marak di Indonesia dalam satu dekade terakhir, diantaranya: pemahaman agama yang sempit, konstelasi politik di Timur Tengah, kemiskinan, pemerintahan yang lemah dan tidak tegas, serta kurangnya rasa awas masyarakat terhadap keadaan di lingkungannya. Beliau juga memaparkan fakta tentang aksi terorisme yang terjadi di Indonesia dalam 10 tahun belakangan ini.

Diawali dengan ibadah pagi, sesi hari kedua diisi dengan penjelasan tentang Hak Asasi, Kesetaraan dan Kebebasan oleh Prof.Dr.John Zechariah, Ketua ACISCA. Pimpinan Mary School India ini mengatakan bahwa hal-hal tersebut diatas bisa menjadi sebuah langkah maju dalam pembangunan perdamaian di Asia, dan karenanya kita harus menjunjung tinggi hak asasi manusia dan mengedepankan persamaan. Selanjutnya, Mr. Taweechai Termkunanont, seorang mantan petugas UNHCR (Lembaga PBB yang khusus menangani masalah pengungsi), membawakan topik “Asian Youth: A Source of Peace in Asia”. Dalam pemaparannya beliau lebih menekankan pada pentingnya pembinaan generasi muda, karena topang terkuat suatu bangsa adalah generasi muda. “Oleh karena itu, generasi muda harus menjadi pewarta dan pelaku perdamaian. Jika generasi muda mampu memberitakan damai, maka mimpi tentang perdamaian bisa terwujud” demikan imbuh beliau.

Pada sesi sore hari, dua orang dari Universitas Mahidol Tahiland tampil sebagai pembicara, yaitu Ms.Ngamsuk Rattanasatian dan Prof.Dr.Gothom Arya, seorang guru besar dan peneliti. Topik yang dibawakan adalah tentang training dan forum diskusi untuk menjembatani konflik etnik yang terjadi di bagian Selatan Thailand. Meskipun kesannya konflik ini berkaitan dengan agama (Buddha dan Islam), tetapi sebenarnya lebih mengarah pada pertentangan etnis. “Di wilayah ini, lebih aman menjadi seorang muslim dari pada menjadi seorang Melayu” demikian kata Prof.Arya. Metode diskusi dan training yang diprakarsai oleh Universitas Mahidol sampai saat ini cukup efektif meredam konflik yang sepertinya sudah mengakar di perbatasan Thailand dan Malaysia ini.

Hari terahir workshop diisi dengan pemaparan tentang Tolerasi Beragama dan Hidup berdampingan secara damai oleh Mr.Abdus Sarbu, Direktur AMAN (Asian Moslem Action Network). Beliau menjelaskan bahwa sampai kapanpun perbedaan agama akan terus ada, dan jika ini menjadi alasan perpecahan maka sampai kapanpun perdamaian tidak akan tercipta. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk saling menghargai perbedaan keyakinan dan berusaha untuk hidup berdampingan dalam secara damai. Dalam sesi pagi yang dimoderatori oleh Ferdinand Paratu (MBM) ini, dilanjutkan dengan topik Keamanan dan Perdamaian dalam masyarakat yang disampaikan oleh Mrs.Sudarat Sereewat, Direktur FACE (Fight Against Child Exploitation). Wanita yang sudah 20 tahun berjuang untuk wanita dan anak-anak ini memjelaskan faktor-faktor yang mengakibatkan anak-anak dan wanita seringkali menjadi korban dalam konflik, terutama pariwisata. “Selain dampak positif yaitu pembangunan ekonomi yang bisa berkembang cepat, pariwisata juga membawa dampak negatif terutama bagi anak-anak koraban pedhopilia” imbuhnya.

Sesi hari terkahir ini ditutup dengan pemaparan hasil penelitian tentang pandangan generasi muda Thailand mengenai konflik politik yang disampaikan oleh Sanurak Fongvarin, alumnus CLLT terdahulu yang diselenggarakan di Yayasan MBM Bali. Hasil penelitian ini mendapat pujian dan apresiasi dari partisipan dan Ketua ACISCA. Beliau mengharapkan bahwa di masa yang akan datang penelitian serupa bisa kembali dilakukan terutama tentang sejarah dan peranan ACISCA dalam pembangunan perdamaian di Asia.

Setelah berlangsung selama tiga hari, workshop ini secara resmi ditutup dengan ibadah oleh Rev.Surakit Kamonrat, Direktur Student Christian Centre (SCC). Beliau mengharapkan agar pesan perdamaian bisa disampaikan kepada semua orang dimanapun kita berada, dan kiranya damai sejahtera terus menaungi muka bumi ini.

May Peace Prevail on Earth……….

Category: Capacity Building

Leave Comment