Main Menu

Archives

Meta

Click for Denpasar, Indonesia Forecast

PELATIHAN MEMBUAT KUE DAN JAJAN SEBAGAI USAHA ALTERNATIF BAGI IBU RUMAH TANGGA

By admin | June 7, 2009


Senin, 8 Juni 2009, Yayasan Maha Bhoga Marga menyelenggarakan Pelatihan Pembuatan Kue dan Jajanan bagi ibu-ibu rumah tangga, yang juga merupakan anggota Kelompok Perempuan Mandiri (KPM) dan Kelompok Dampingan Sebaya (KDS). Kedua kelompok bentukan Yayasan MBM ini merupakan merupakan kelompok yang selama ini mendapat dampingan dari yayasan MBM baik itu dari segi bantuan dana untuk usaha, maupun dalam bentuk pelatihan dan dukungan dalam bidang sosial kemasyarakatan. Tujuan dari diadakannya Pelatihan ini adalah untuk memberikan ketrampilan tambahan bagi anggota kelompok. “Diharapkan, dengan adanya pelatihan ini, mereka akan mempunyai keterampilan tambahan, dan menggunakan keterampilan ini untuk menunjang usaha keluarga. Ke depannya, mereka akan menjadi perempuan yang mandiri, tidak menggantungkan ekonomi keluarga pada penghasilan suami” demikian penjelasan dari Verasea Manurung, fasilitator dari pelatihan ini. Bersama dengan Ni Nyoman Triminahati, instruktur dari pelatihan ini, sebanyak 15 peserta masing-masing mewakili satu kelompok mengikuti pelatihan ini dengan penuh antusias, diantaranya cara-cara awal dalam membuat dan mengolah adonan. Pada pelatihan hari pertama, peserta diberikan penjelasan mengenai cara-cara mencampur bahan-bahan untuk membuat karamel dan kue bolu. Pelatihan ini sendiri rencananya akan berlangsung selama 2 hari (8-9 Juni 2009) di Hall Yayasan Maha Bhoga Marga.

Berikut ini resep kudapan untuk pelatihan:


KARAMEL

 Bahan  :

 

I.          1. Gula Pasir             2, 5 gelas

2. Air                                       2, 5 gelas

 

II.         1. Telur                                   8 butir

2. Tepung Terigu                 3 gelas

3. Susu                                  0,5 kaleng

4. Blueband                          1 bungkus

5. Soda Kue  R/V                 1 sdt

6. Vanili                                 secukupnya

 

Cara Membuat :

 

Bahan 1. :

1.  Gula disangrai  sampai meleleh

  1. Masukkan air
  2. Dinginkan adonan I

 

Bahan 2 :

1.    Kocok susu, bluband sampai tercampur

2.    Masukkan telur satu persatu sampai habis

3.    Tambahkan tepung dan soda kue

4.    Masukkah gula karamel

5.    Tuangkan ke loyang

6.    Oven sampai matang

 


BOLU JERUK

 Bahan :

 

1. Telur                             7 butir

2. Gula                             200 gram

3. Sp.                                ½ sdm

4. Nutrisari                       14 gram

5. Susu cair                     secukupnya

6. Blueband                    250 gr/ 1 bungkus

7. Vanili                           secukupnya

8. Tepung Terigu           280 grm

 

Cara membuat :

  1. Kocok telur, gula, sp dan vanili hingga tercampur rata ,

mengembang sampai putih

  1. Cairkan blueband
  2. Masukkan tepung dan nutrisari + blueband
  3. Campurkan dengan susu
  4. Tuangkan di loyang
  5. Oven sampai matang (kuning coklat)

 

 

 

Topics: Activities, News | No Comments »

ORIENTASI DAN STUDI BANDING YAYASAN TBL DAN YAYASAN THM

By admin | June 4, 2009


Yayasan Maha Bhoga Marga, sebagai sebuah lembaga yang cukup berpengalaman dalam bidang pelayanan sosial dan pengembangan ekonomi masyarakat, menerima kedatangan tamu dari dua (2) lembaga lain dari Pulau Sulawesi yaitu: Yaitu Titian Budi Luhur dan Yayasan Tunas Harapan Mandiri. Perwakilan dari masing-masing lembaga adalah I Nyoman Suardana (Yayasan TBL) dan I Made Rai Widhya Adhi (Yayasan THM). Selama 3 hari (25 – 28 Mei 2009), Yayasan MBM. Yayasan TBL dan Yayasan THM saling berbagi pengalaman mengenai program-program pelayanan masyarakat yang selama ini telah dilaksanakan dan metode-metode penerapannya. Program pelayanan Yayasan MBM, baik itu dari Divisi Ekonomi dan Pembangunan Mayarakat maupun dari Divisi Kesehatan dan Advokasi, selama ini sudah menjadi pioneer bagi lembaga-lembaga yang lain untuk dicoba di tempat mereka melakukan pelayanan. Demikian juga halnya dengan Yayasan TBL dan Yayasan THM, yang ingin mengetahui lebih detail mengenai program pelayan kesehatan dan ekonomi yang selama ini sudah diterapkan oleh Yayasan MBM.

Kunjungan orientasi dan studi banding kali ini lebih banyak diisi dengan kegiatan kunjungan ke lapangan menemui kelompok maupun individu yang sudah dilayani oleh Yayasan Maha Bhoga Marga. Hari pertama, bersama dengan Pimpinan Yayasan MBM, I Nyoman Suardana (Yayasan TBL) dan I Made Rai Widhya Adhi (Yayasan THM) lebih banyak berdiskusi mengenai pengejawantahan program, system penyusunan rencana kerja, pengimplementasian program dan pola-pola penanganan masalah dalam kelompok maupun individu. Selain memberikan informasi bagi lembaga jaringan kerja, Yayasan MBM juga banyak menerima informasi-informasi penting mengenai program-program pertanian dan peternakan yang sedang dilaksanakan oleh Yayasan TBL dan Yayasan THM.

Dan dalam kaitannya dengan rencana pengembangan peternakan sapi di Sulawesi, yang merupakan pilot project bagi kedua Yayasan ini, pada hari ke-dua diskusi lebih banyak difokuskan pada pembentukan kelompok sapi, pengembangan biogas dari pengolahan limbah sapi, sampai kepada pembuatan BOKASI menggunakan limbah kotoran sapi. Pada hari ke-dua, kegiatan studi banding dan orientasi ini diisi dengan mengadakan kunjungan ke masyarakat yang merupakan binaan Yayasan Maha Bhoga Marga. Yayasan Maha Bhoga Marga, melalui coordinator pembentukan Kelompok Peternak Sapi, yaitu I Wayan Budiyasa banyak memberikan informasi-informasi yang implementatif sehingga nantinya mudah diserap dan diterapkan oleh Yayasan TBL dan THM.

Pada hari selanjutnya kunjungan kerja, orientasi dan studi banding ini dilanjutkan dengan mengunjungi Pasar Sapi Bringkit yang terletak di Mecamatan Mengwi, Kabupaten Badung BALI. Pasar tradisional ini merupakan tempat Yayasan MBM biasanya melakukan transaksi, baik itu untuk membeli sapi induk untuk didistribusikan kepada peternak maupun untuk menjual ternak sapi yang dianggap sudah tidak produktif, dan nantinya akan dijadikan sapi potong. Banyak hal yang dibahas dalam kunjungan kali ini, mulai dari cara memilih induk sapi yang sehat, kriteria dan umur yang produktif dan negosiasi harga. “Sapi Bali, jenis yang diternakkan oleh kelompok binaan Yayasan MBM, merupakan spesies unik yang hanya ditemukan di Bali, dan karenanya mungkin berbeda dengan jenis sapi yang akan diternakkan di Sulawesi”, demikian menurut salah satu dari perwakilan dari Sulawesi ini.

Pada hari ke-empat, hari terakhir dari program orientasi ini, diisi dengan kunjungan ke Kelomok Sapi di Banjar Kemukus, Desa Trunyan Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Lokasi yang berada di perbukitan sejuk di daerah Utara Bali ini merupakan tempat yang juga menjadi dan kesehatan. Beberapa kelompok sapi yang sudah menjadi binaan Yayasan MBM maupun yang masih dalam tahap negosiasi tidak luput dalam kunjungan ini. Salah satunya adalah mengunjungi Kelompok Peternak Sapi Panca Karya. Kelompk yang terdiri dari 5 orang ini mendapat bantuan sapi induk dari Yayasan MBM, masing-masing 2 ekor sapi induk untuk setiap anggota. Periode bantuan ini akan berlangsung selama 15 bulan, terhitung sejak kelompok menerima ternak sapi dari Yayasan MBM. Dalam periode ini, setiap kelahiran pertama dari semua ternak sapi akan dikembalikan kepada Yayasan MBM untuk nantinya dijadikan bibit bagi kelompok yang lain, dan atau untuk dijual dan dananya akan dipakai untuk memfasilitasi kelompok lainnya. Pada kelahiran ke-dua dank e-tiga akan sepenuhnya menjadi milik anggota kelompok. Secara swadaya, masing-masing anggota kelompok akan mengusahakan pakan untuk ternak sapi ini. Diharapkan, seminimal mungkin anggota kelompok tidak mengeluarkan biaya untuk pakan ternak. Kondisi alam pegunungan Kintamani yang sejuk dan subur bisa dimanfaatkan untuk pengembangan Rumput Gajah (King Grass), jenis yang sangat cocok untuk penggemukan ternak sapi.  Para anggota kelompok tampaknya sangat antusias dengan program peternakan sapi ini, dan mereka berharap suatu saat nanti pada akhirnya mereka akan mandiri. Dalam waktu 15 bulan setelah perjanjian kerjasama ini berakhir, Yayasan MBM bersama dengan semua anggota kelompk kembali akan mengevaluasi semua kegiatan, dan bila memungkinkan kerjasama perternakan akan dilanjutkan untuk periode selanjutnya. Jika sapi induk dianggap sudah tidak produktif lagi, maka Yayasan MBM bersedia untuk menggantinya dengan sapi induk yang lain. Dengan cara seperti ini diharapkan peternak sapi menjadi lebih termotivasi dalam mengembangbiakkan ternaknya. Disaat yang sama, Yayasan MBM bersama kedua perwakilan dari Sulawesi ini juga mengunjungi Kelompok Peternak Sapi Buana Giri. Kelompok ini masih berada dalam tahap awal untuk pengembakbiakan ternak sapi. Dan untuk mendukung lancarnya proses awal ini, Yayasan MBM memfasilitasi Kelompok ini dengan bantuan Asbes dan semen untuk pembuatan kandang sapi.

Masih dihari dan tempat yang sama, kunjungan dilanjutkan ke kelompok binaan lainnya, yang kali ini sudah memanfaatkan limbah kotoran sapi untuk pembuatan biogas. Dalam hubungannya dengan pembuatan biogas ini, menurut I Nyoman Suardana, perwakilan dari Yayasan TBL, akan sangat membantu dalam pemanfaatan energi alternative. “Program yang sangat bagus. Peternak sendiri pastinya akan sangat banyak mendapat keuntungan dari program peternakan mereka. Selain memperoleh keuntungan langsung dari ternaknya, limbah dari ternak sapi juga bisa dipakai untuk menekan pengeluaran untuk  bahan bakar, khususnya untuk memasak”, tambahnya. Detail dan teknis pembuatan, pengolahan dan pemanfaatan hasil limbah, seperti telah dijelaskan pada hari pertama, dijelaskan kembali oleh Drs.Gede Mustika, Kepala Divisi Ekonomi dan Pengembangan Ekonomi Masyarakat. Beliau mengharapkan, nantinya Yayasan TBL dan THM bisa menerapkan hal yang sama di tempat mereka melayani.

Topics: Activities, News | No Comments »

PELATIHAN ADMINISTRASI DAN KEUANGAN BAGI KELOMPOK BINAAN

By admin | June 3, 2009


Rabu, 03 Juni 2009, Divisi Ekonomi dan Pembangunan Masyarakat Yayasan Maha Bhoga Marga mengadakan Pelatihan Administrasi dan Keuangan bagi kelompok binaan Yayasan MBM, yaitu Kelompok Perempuan Mandiri (KPM) dan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM). Seluruh kegiatan Pelatihan berlangsung di Hall Yayasan MBM, Kapal dan menampilkan Pdt.Nengah Suama, Direktur Yayasan Maha Bhoga Marga sebagai pembicara. Kepala Divisi Ekonomi dan Pembangunan Masyarakat, Drs.I Gede Mustika juga menyampaikan beberapa hal yang berkenaan dengan penguatan kelompok.

Adapun tujuan dari Pelatihan ini adalah memberikan pengetahuan tambahan kepada masing-masing anggota kelompok dalam mengelola keuangan kelompok agar nantinya mereka bisa menjadi kelompok yang mandiri. Diharapkan, dengan pengetahuan tambahan mengenai administrasi dan pengelolaan keuangan yang mereka dapatkan, mereka bisa menjadikan usaha mereka sebagai sandaran bagi perekonomian keluarga. Sampai saat ini, anggota dari Kelompok Perempuan Mandiri dan Kelompok Swadaya Masyarakat adalah masyarakat pedesaan yang menggantungkan hidup dari pertanian. Yayasan Maha Bhoga Marga memfasilitasi mereka ini dengan menawarkan usaha-usaha alternatif agar mereka bisa memiliki usaha tambahan bagi keluarga. Selain itu, Yayasan MBM juga selalu mengadakan kontrol terhadap perkembangan usaha mereka, dan memberikan pengetahuan tambahan yang berkaitan dengan usaha mereka.

Pelatihan Administrasi dan Keuangan kelompok ini diikuti oleh empat (4) kelompok binaan Yayasan MBM. Sejumlah 20 orang anggota kelompok turut ambil bagian dalam Pelatihan sehari ini.

Topics: Activities, News | No Comments »

Penyuluhan Pemanasan Global dan Pelatihan Pertanian Organik

By admin | June 1, 2009

Ambyarsari, 9 Mei 2009


Dalam upaya peningkatan dan pengembangan ekonomi masyarakat, Yayasan MBM melalui Divisi Ekonomi dan Pembangunan masyarakat menyelenggarakan Penyuluhan Pertanian Organik bagi petani di dusun Ambyarsari, Desa Blimbingsari, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, Bali. Pertemuan yang dilaukan di Balai Banjar Dusun Ambyarsari ini diikuti oleh 20 orang warga desa dan juga anggota kelompok binaan YayasanMBM, yaitu Kelompok Tani Lestari. Momen ini juga sebagai bagian dari Perayaan Ulang Tahun kelompok tersebut yang ke-3.

Pelatihan ini diawali dengan doa bersama yang dipimpin oleh salah satu peserta pelatihan. Selanjutnya, I Gede Mustika, sebagai Kepala Divisi Ekonomi dan Pemberdayaan Masyarakat, yang juga tampil sebagai pembicara dalam Penyuluhan dan pelatihan ini, mengawali penyuluhan dengan memberikan informasi dasar mengenai pemanasan global, penyebab dan konsekuensinya.  Cara penyampaian yang sederhana dengan memberikan kesempatan kepada peserta untuk bertanya, membuat para peserta cepat menyerap informasi yang diberikan. “Bumi kita ini dikelilingi oleh sebuah selimut tebal. Panas dari matahari yang dipancarkan ke bumi akan dipantulkan lagi, sehingga bumi kita tetap terjaga temperaturnya. Tetapi sekarang, karena begitu banyaknya emisi gas karbon, baik itu dari kendaraan bermotor maupun pabrik, membuat selimut penutp bumi itu semakin tebal. Dan karenanya, panas dari matahari tidak bisa dipantulkan kembali. Inilah yang disebut dengan “Efek Rumah Kaca”, demikian imbuh beliau dalam pembukaan pelatihan ini. Oleh karena itu beliau sangat mengharapkan peran setiap orang untuk selalu menjaga kelestarian lingkungan. Alasannya tentu saja, karena pepohonan dan tumbuh-tumbuhan memerlukan karbondioksida (CO2) dalam proses fotosintesis, serta mengeluarkan oksigen (O2) yang sangat diperlukan manusia.

Dan berhubungan dengan penggalakan pertanian dengan menggunakan pupuk organik, para peserta pelatihan juga mendapatkan banyak masukan mengenai cara pengolahan pupuk organik dengan memanfaatkan bahan-bahan yang ada dilingkungan sekitar, yang disebut denagn BOKASI. Proses pengolahan ini menggunakan kotoran sapi, kotoran ayam, limbah sekam yang merupakan sisa pembakaran, tanah, dan micro-organisme yang berfungsi sebagai pengurai. Setiap beberapa hari sekali, campuran Bokasi ini harus diaduk dan dibalik, sehingga nantinya zat pengurainya bisa menguraikan semua dengan merata. Ketika gas methan dari kotoran sapi seudah hilang, artinya pupuk olahan ini sudah siap untuk dipakai. Penggunaan pupuk organik olahan ini, selain mengurangi dampak Rumah Kaca, juga bisa mengurangi pengeluaran petani dalam membeli pupuk buatan Pabrik.

Selain pelatihan mengenai pembuatan Bokasi, Dr. Gede Suwarno, Dokter Hewan sekaligus Fasilitator dalam Bidang Pertanian, mendemonstrasikan cara pembuatan cairan pestisida sebagai hasil penyulingan dari sekam padi yang dibakar. (Sekam sisa ini yang dipakai untuk pembuatan bokasi). Cairan ini bisa berfungsi sebagai obat anti hama bagi tanaman padi. “Obat yang paling baik bagi tanaman adalah sesuatu yang berada paling dekat dengan tanaman itu sendiri”, demikian tembahnya. Dengan menggunakan media sederhana, seperti bambu dan kaleng bekas, proses pembakaran itu sendiri tidak memerlukan banyak waktu. Sedikitnya 1 gelas air sulingan akan dihasilakan dari pembakaran 1 karung sekam kering. Perbandingan antara air dan pestisida alami ini adalah 1:10, artinya 1 liter pestisida dicampurkan dengan 10 liter air. Para peserta sangat antusias dengan semua kegiatan ini. Selain disampaikan dengan cara yang sederhana sehingga mudah dimengerti, mereka juga mengakui bahwa sebenarnya mereka selama ini tidak menyadari akan potensi yang ada dilingkungan sekitar mereka. Dan karenanya, mereka sangat bersyukur bisa mendapatkan pengetahuan tambahan ini dari Yayasan Maha Bhoga Marga.

Topics: Activities | No Comments »

PELATIHAN RELAWAN HIV&AIDS

By admin | May 10, 2009


Sebagai bagian dari program pelayanannya dalam bidang kesehatan, Yayasan MBM, dalam hal ini Divisi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat, menyelenggarakan Pelatihan Relawan HIV&AIDS selama 2 hari (29-30 April 2009) di Balai Serba Guna Gereja Jemaat Pniel Blimbingsari, Melaya, Kabupaten Jembrana Bali. Peserta pelatihan adalah masyarakat di sekitar desa Blimbingsari dan Ambyarsari, Kecamatan Melaya.

Pelatihan ini dihadiri lebih dari 20 orang peserta , terdiri dari berbagai kalangan masyarakat. Kebanyakan dari peserta adalah warga jemaat Blimbingsari, tetapi ada juga beberapa yang berasal dari kawasan Negara dan Gilimanuk. Antusias dan keinginan yang begitu besar dari para peserta pelatihan untuk mengetahui informasi dasar mengenai HIV & AIDS membuat pelatihan ini berjalan dalam komunikasi dua arah, yang menghadirkan dua pembicara; yaitu dr. Luh Debora Murthy (MBM) dan Carna Wirata (YCUI).

Prosesi pelatihan ini diawali dengan renungan, refleksi dan wejangan-wejangan oleh Pdt.Ayub, mantan Bishop GPKB yang sekarang melayani Jemaat Pniel Blimbingsari. Beliau mengatakan, fakta mengenai HIV&AIDS sudah lama ada di Indonesia. Dan oleh karena itu, adalah suatu yang sangat berharga jika Yayasan MBM bersedia untuk memfasilitasi kegiatan-kegiatan sosial seperti ini. “Jika kita ingin agar penyebaran HIV&AIDS berhenti sampai disini, maka sekarang adalah waktu yang tepat untuk memulai” demikian ucap beliau. Landasan Firman Tuhan, yang memmapukan kita setiap saat, kiranya menjadi pegangan kita dalam upaya pencegahan dan penanggulangan HIV&AIDS.

Selama dua hari, pelatihan relawan HIV & AIDS dibagi dalam 2 bagian, yaitu informasi dasar mengenai kesehatan reproduksi. Lebih lanjut, dr. Debby, demikian beliau akrab dipanggil, menjelaskan secara gamblang mengenai fungsi organ-organ reproduksi. “Ada pepatah mengatakan – tak kenal maka tak sayang – demikian juga halnya dengan alat reproduksi kita..jika kita kenal, maka kita pasti akan lebih sayang dan merawatnya”, ujarnya. Kontan ucapan beliau mendapat tawa meriah dari seluruh peserta pelatihan, terutama dari kalangan ibu-ibu. Masih banyak hal yang juga dijelaskan oleh dr.Debby berkaitan dengan kesehatan reproduksi wanita, diantaranya kiat-kiat mengenali gejala-gejala penyakit kelamin dan cara-cara penyembuhan. Berawal dari pemberian informasi mengenai Infeksi Menular Seksual (IMS) inilah, informasi dasar mengenai penyakit HIV & AIDS bisa perlahan-lahan diterima oleh peserta.

Dalam sesi selanjutnya, masih dihari yang sama, penjelasan lebih jelas mengenai fakta HIV&AIDS dijelaskan secara detail oleh Carna Wirata, relawan dan juga koordinator penanggulanagn HIV&AIDS Yayasan Citra Usada Indonesia wilayah Buleleng. Planet, demikian nama bekennya di dunia LSM HIV&AIDS, mengatakan bahwa saat ini YCUI memiliki lebih dari 1500 relawan HIV&AIDS, yang tersebar diseluruh wilayah Bali, dan kebanyakan mereka difokuskan di wilayah yang ditengarai menjadi daerah yang rawan penyebaran HIV&AIDS. Bapak dua anak ini mengakui sangat senang dengan antusiasme yang ditunjukkan oleh  peserta pelatihan, dan juga sangat menghargai usaha Yayasan MBM dalam memfasilitasi pelatihan relawan seperti ini. Dia juga kembali menambahkan dan memberi tips kepada peserta pelatihan, bahwa dalam menyampaikan informasi yang benar tentang HIV&AIDS, maka yang paling penting adalah cara kita berkomunikasi. “Kita harus mengenal betul karakter orang dan lingkungan yang akan kita berikan informasi..Jika tidak, informasi yang kita berikan akan sia-sia”, demikian imbuhnya. Peserta semakin tertarik dan bersemangat ketika dalam pelatihan ini juga dikenalkan kondom. Tentu saja para ibu-ibu yang sebetulnya merasa bahwa kondom adalah hal yang tabu, mau tidak mau harus mengikuti instruksi penggunaan dan pemakaian kondom yang dipraktekkan oleh Planet. Dia mengatakan “memang benar bahwa terkadang kita menerima pendapat yang kontra mengenai penggunaan kondom. Banyak yang berpendapat bahwa pemberian kondom sama halnya dengan melegalkan prostitusi atau sex bebas. Tentu saja hal itu sebenarnya salah. Saran untuk menggunakan kondom sebenarnya sangat beralasan, karena kondom adalah satu-satunya alat yang bisa mencegah penularan HIV&AIDS melalui hubungan sex” ujarnya bersemangat. Selain itu, Planet juga menambahkan, pola penularan HIV&AIDS tidak hanya melalui hubungan sex, tetapi juga memalui narkotika jarum suntik, dan juga melalui transfusi darah, akan tetapi, pola penyebaran melalui hubungan sex memang menjadi factor tertinggi dari penyebaran HIV&AIDS.