Licahnya Jemari Menata Makanan di Atas Meja

licahnya-jemari-menata-makanan-di-atas-meja

 

Jemarinya lincah menganyam janur dan bunga pacar menjadi canang sari (sesajen upacara agama Hindu). Hanya dalam hitungan detik, perempuan yang tinggal di Desa Pajahan ini dapat menyelesaikan sebuah canang sari yang siap untuk dijual. Saat ini, Ni Putu Dwi Antari membuat 800 canang sari setiap harinya, yang dijual di pasar lokal dan pengepul. Dari usaha ini, ia bisa mendapatkan penghasilan Rp 200.000 per hari.

Selama lebih dari tiga tahun, ia telah berjualan canang sari untuk menambah penghasilan keluarganya. Pekerjaan suaminya sebagai petani kopi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga, ditambah lagi mereka memiliki 2 orang anak yang beranjak dewasa dan membutuhkan biaya untuk pendidikan. Dengan kondisi tersebut, ia memutuskan untuk memulai usahanya membuat canang sari.

Sebelum menerima bantuan modal dari MBM sebesar Rp 1,5 juta, ia hanya mampu membuat 300 - 400 canang sari setiap hari dengan penghasilan Rp 1,5 - 2 juta (bersih). Biaya terbesar untuk membuat canang sari adalah daun kelapa (janur) karena ia harus membelinya. Dalam sehari, ia bisa menghabiskan 100 janur untuk membuat canang sari. Modal usaha yang ia terima dari MBM digunakan untuk membeli janur dan bunga sehingga ia dapat memproduksi lebih banyak canang sari.

Dengan penghasilan sekitar Rp 3 juta (bersih) setiap bulannya, ia mengaku penghasilannya cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarga, bahkan ia bisa menyisihkan sebagian uangnya untuk ditabung di Bumdes. Selain meminjam dari MBM, ia juga mendapatkan kepercayaan dari BumDes Pajahan untuk mendapatkan pinjaman tambahan sebesar Rp 750.000,-. Ia menggunakan uang tersebut untuk membeli peralatan produksi yang diperlukan. Ni Putu Dwi Antari adalah seorang wanita yang percaya diri, dengan bakatnya dalam membuat canang sari, ia dapat memanfaatkannya untuk mendapatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.